Olahraga Tradisional Egrang, Menjaga Keseimbangan dan Mewariskan Kearifan Lokal

  • Jun 13, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Olahraga

Sleman — Olahraga tradisional egrang tidak hanya dikenal sebagai permainan rakyat yang menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis yang mendalam. Permainan yang menggunakan dua batang bambu sebagai alat pijakan ini telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. 

Secara filosofis, egrang melambangkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan. Seseorang yang menaiki egrang harus mampu menjaga posisi tubuh agar tetap tegak dan tidak mudah terjatuh. Nilai ini mengajarkan bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial agar dapat menjalani kehidupan secara harmonis. Hal tersebut dikatakan Wijang Wahyu Wiwoho sebagai narasumber pelatihan wasit permainan dan olahraga tradisional batch III yang berlangsung di Gedung Youth Center Sleman, Sabtu (13/6/2026). 

Menurut Wijang, selain keseimbangan, egrang juga mengandung makna ketekunan dan kesabaran. Tidak semua orang dapat langsung berjalan dengan lancar menggunakan egrang. Dibutuhkan latihan berulang, kemauan belajar, serta kesabaran untuk menguasai keterampilan tersebut. 

“Filosofi ini mencerminkan bahwa keberhasilan dalam kehidupan tidak dapat diraih secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan. Di balik kesederhanaannya, egrang mengajarkan berbagai nilai kehidupan yang relevan hingga saat ini,” katanya dihadapan puluhan peserta pelatihan.

Selain itu, permainan egrang juga mengajarkan keberanian dalam menghadapi tantangan. Berdiri di atas pijakan yang lebih tinggi dari permukaan tanah membutuhkan rasa percaya diri dan keberanian. Setiap langkah yang diambil mengandung risiko terjatuh, namun pemain dituntut untuk tetap maju. Nilai ini sejalan dengan kehidupan yang penuh tantangan, di mana seseorang harus berani mengambil langkah dan keputusan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Yang tak kalah penting, technical meeting harus dilakukan karena memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan perlombaan olahraga tradisional egrang. Kegiatan ini menjadi sarana koordinasi antara panitia, wasit, dan peserta untuk menyamakan pemahaman mengenai seluruh ketentuan pertandingan sehingga perlombaan dapat berjalan tertib, aman, dan sportif.

“Melalui technical meeting, peserta memperoleh penjelasan secara rinci mengenai peraturan perlombaan, mulai dari spesifikasi egrang yang diperbolehkan, tata cara start dan finis, sistem penilaian, hingga ketentuan diskualifikasi. Kesamaan pemahaman terhadap aturan akan meminimalkan terjadinya kesalahpahaman maupun protes selama pertandingan berlangsung,” terang Wijang.

Dalam perspektif sportivitas, technical meeting membantu menciptakan kompetisi yang adil bagi seluruh peserta. Setiap atlet mendapatkan informasi yang sama sehingga tidak ada pihak yang memperoleh keuntungan karena perbedaan pemahaman terhadap aturan. Hal ini menjadi landasan penting dalam menjaga integritas perlombaan.

Sedangkan bagi wasit dan juri, technical meeting menjadi wadah untuk menyamakan persepsi dalam menerapkan aturan pertandingan. Keseragaman dalam pengambilan keputusan sangat diperlukan agar proses penilaian berjalan objektif, konsisten, dan dapat diterima oleh seluruh peserta.

Kegiatan ini merupakan tahapan strategis yang menentukan kelancaran, keamanan, keadilan, dan keberhasilan penyelenggaraan olahraga tradisional egrang, sekaligus memperkuat nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam warisan budaya bangsa tersebut. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)