Pasbuja Kawi Merapi Sleman Ajak Siswa SMP Musixta Lestarikan Sastra Jawa

  • Dec 15, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Seni Budaya

Sleman – Workshop menulis geguritan dan cerita cekak (cerkak) yang dilakukan sastrawan dari Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menjadi ruang penting bagi pelajar untuk mengenal dan mengembangkan sastra Jawa secara kreatif dan berkelanjutan. Kegiatan yang berlangsung di Aula SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta (Musixta), Senin (15/12/2025) diikuti oleh 25 siswa terpilih bersama tiga guru pendampingnya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Perpustakaan Musixta guna meningkatkan minat peserta didik terhadap bahasa dan karya sastra Jawa ini mengangkat tema “Nimbang Rasa, Ngripta Ukara” sebagai upaya memperkuat literasi sekaligus melestarikan budaya lokal melalui sastra. 

Dua sastrawan Pasbuja Kawi Merapi Sleman yaitu Ngatilah, S.Pd, dan Drs. Suhartoyo selaku pemateri yang secara langsung membimbing siswa dalam memahami dasar-dasar penulisan geguritan dan cerkak. Melalui pendekatan interaktif, mereka diajak mengenal struktur, diksi, serta nilai estetika dalam karya sastra Jawa sekaligus praktik menulis geguritan (puisi Jawa) dan cerkak (cerita pendek). 

“Bahasa Jawa itu bukan bahasa yang sulit. Hanya perlu pembiasaan saja. Semakin sering digunakan maka semakin lancar dan kreatif dalam berkarya,” ujar Hartoyo saat sesi diskusi interaktif berlangsung.

Lebih lanjut, Ngatilah menekankan bahwa geguritan dan cerkak tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, melainkan sebagai media ekspresi nilai-nilai budaya, etika, dan kearifan lokal Jawa. Karena itu, kemampuan menulis sastra Jawa perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.

Selain teori, seluruh siswa diajak untuk langsung mempraktikkan penulisan geguritan dan cerkak berdasarkan pengalaman sehari-hari dan lingkungan sekitar. Metode praktik ini bertujuan untuk melatih kepekaan rasa, imajinasi, serta kemampuan merangkai bahasa Jawa yang komunikatif dan bermakna.

Beberapa karya terbaik akan dikirimkan ke media berbahasa Jawa di Yogyakarta sebagai bentuk apresiasi dan media publikasi karya pelajar. Antusiasme mereka terlihat dari keaktifannya dalam berdiskusi, bertanya, serta membacakan hasil karya di hadapan siswa lain.

“Interaksi tersebut menciptakan suasana belajar yang apresiatif dan mendorong rasa percaya diri dalam berkarya sastra,” imbuh Ngatilah.

Sementara itu, Dian Sri Widiarti, M.Pd selaku Kepala SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta menyambut baik pelaksanaan workshop ini sebagai bagian dari penguatan literasi dan pendidikan karakter berbasis budaya. Ia menilai kegiatan ini selaras dengan upaya sekolah dalam menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap bahasa daerah.

“Saya harap workshop ini dapat dijadikan wadah inspirasi bagi siswa dalam mencintai bahasa daerah sekaligus meningkatkan kemampuan literasi mereka,” tandas Dian.

Melalui kegiatan menulis geguritan dan cerkak ini, pelajar diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan karya sastra, tetapi juga memiliki kesadaran budaya serta kebanggaan terhadap warisan sastra Jawa sebagai bagian dari jati diri mereka. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)