Pasbuja Kawi Merapi Sleman Ikuti Kegiatan Literasi di Balai Bahasa Yogyakarta
- Apr 27, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Literasi
Sleman — Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman mengikuti kegiatan literasi bertema bincang buku cerkak “Esemmu Nambahi Tatu” karya Yonas Suharyono digelar di Aula Balai Bahasa Yogyakarta pada Senin (27/4/2026).
Dalam forum tersebut, Bayu Saptama bersama Dhanu Priyo Prabowo selaku narasumber menekankan pentingnya membaca karya sastra berkualitas milik orang lain sebagai fondasi utama dalam membangun gagasan menulis yang kuat, orisinal, dan bernilai estetika.
Menurut peneliti sastra jawa, Dhanu Priyo Prabowo, membaca karya para sastrawan yang baik bukan sekadar aktivitas menikmati cerita, melainkan proses belajar memahami struktur, gaya bahasa, serta kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.
“Hal ini menjadi bekal penting bagi penulis pemula untuk mengembangkan daya imajinasi sekaligus keterampilan teknis dalam menulis cerkak,” tandasnya di hadapan puluhan peserta.
Dhanu menjelaskan bahwa karya sastra yang baik umumnya memiliki kekuatan pada aspek narasi, penokohan, konflik, dan penyelesaian cerita yang matang. Dengan membaca secara intensif, penulis dapat menyerap berbagai teknik tersebut secara tidak langsung dan menerapkannya dalam karya mereka sendiri, termasuk dalam penulisan cerita cekak yang menuntut ketepatan pemilihan diksi.
“Karya sastra yang ditulis oleh sastrawan unggul umumnya memiliki kekuatan pada aspek struktur yang solid dan konsistensi tema. Hal ini penting dipelajari oleh para penulis cerkak, mengingat keterbatasan ruang dalam cerita pendek menuntut ketepatan dalam setiap elemen yang disusun,” sambungnya.
Sementara itu, Bayu Saptama yang juga penulis sastra jawa, menyoroti bahwa kegiatan membaca dapat memperluas cakrawala berpikir dan memperkaya referensi ide. Semakin banyak karya yang dibaca, semakin besar kemungkinan seorang penulis menemukan sudut pandang baru yang dapat diolah menjadi cerita yang segar dan relevan.
Ia menambahkan, membaca karya sastra lintas budaya berperan dalam membangun sensitivitas sosial penulis. Sehingga, cerita cekak yang dihasilkan tidak hanya menarik secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman makna yang mencerminkan realitas kehidupan.
Dalam sesi tanya jawab yang dipandu Indro Suprobo selaku moderator, juga dibacakan salah satu cerkak karya Yonas Suharyono berjudul “Untu Trewelu” oleh Savitri Damayanti sebagai bahan diskusi.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya strategis dalam mendorong tumbuhnya generasi penulis yang produktif dan berkualitas. Terlebih, cerkak sebagai salah satu bentuk sastra memiliki potensi besar untuk menyampaikan pesan moral secara ringkas namun kuat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)