Pasbuja Sleman Tanamkan Cinta Sastra Jawa Lewat Geguritan

  • Nov 07, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan, Seni Budaya

Sleman - Pembelajaran sastra Jawa kini tak lagi sebatas hafalan atau teori yang membosankan. Di SMP Negeri 2 Ngaglik, Sleman, Jumat (7/11/2025), suasana terasa berbeda ketika sastrawan dari Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman hadir untuk mengajarkan para siswa membuat geguritan. 

Menurut Indriyani Voluntiri Azis selaku Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 2 Ngaglik sekaligus Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Basa Jawa tingkat SMP Kabupaten Sleman mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan nilai-nilai luhur bahasa dan budaya Jawa sejak dini melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan. 

Indriyani mewakili Kepala SMP Negeri 2 Ngaglik menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa pembelajaran sastra Jawa semacam ini mendukung penguasaan bahasa daerah, sekaligus menumbuhkan karakter luhur peserta didik. 

“Anak-anak tidak sekadar belajar bahasa, tapi juga belajar mengenai kesantunan, unggah-ungguh, dan cara berpikir halus sebagaimana diajarkan dalam budaya Jawa,” ujarnya. 

Pihaknya berharap kegiatan sastrawan masuk sekolah ini dapat dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai budaya dapat meresap dalam keseharian para siswa. Indriyani sebagai guru mata pelajaran bahasa Jawa menilai bahwa pembelajaran dengan melibatkan sastrawan secara langsung dapat memperkaya metode pengajaran di sekolah. 

Selain itu, guna memberikan wadah bagi siswa untuk menunjukkan potensi dan bakat mereka di bidang sastra, pihak SMPN 2 Ngaglik akan menerbitkan antologi geguritan dari hasil pelatihan. Dengan diterbitkannya karya para siswa, mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus menulis serta mengembangkan kreativitas dalam ranah sastra Jawa.

“Melalui karya sastra siswa, nilai-nilai luhur, kearifan lokal, serta keindahan bahasa Jawa dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” tandas Indriyani.

Lebih lanjut, suasana kelas berubah menjadi ruang ekspresi yang penuh makna ketika sastrawan dari Pasbuja yang terdiri dari Budi Sardjono, Suhartoyo, R. Toto Sugiharto, dan Adnan Iman Nurtjahjo hadir untuk membimbing 100 siswa yang masih duduk di kelas VIII menulis geguritan. Forum ini bukan sekadar latihan menulis puisi, namun juga sarana menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Mengawali pembelajaran, Budi Sardjono mengajak siswa untuk mengamati lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi. Mereka diminta menulis geguritan bertema keseharian, seperti hubungan dengan orang tua, persahabatan di sekolah, hingga keindahan alam. Pendekatan ini membuat siswa merasa dekat dengan materi, sebab mereka menulis sesuatu yang mereka alami dan rasakan sendiri.

Sementara itu, Suhartoyo mengupas materi perihal cara mudah menulis geguritan. Diantaranya, menentukan tema dan judul, menentukan kata kunci dan pilihan kata (diksi), menggunakan majas atau gaya bahasa, memperhatikan rima atau persajakan, serta menggunakan citraan atau imaji.

Sebelum praktik menulis sebuah geguritan, Suhartoyo mengajak siswa menentukan tema sebagai acuan. “Banyak sekali tema untuk membuat geguritan. Jadi, sebisa mungkin memilih tema yang benar-benar menarik,” ucapnya di hadapan ratusan siswa yang menyimak presentasinya.

Selanjutnya, menentukan pilihan kata atau diksi. Ia menyarankan untuk menggunakan kata-kata yang cenderung memberikan nilai rasa tertentu dalam setiap puisi. Langkah berikutnya yaitu penggunaan gaya bahasa atau majas. Suhartoyo memberikan contoh beberapa majas yang dapat digunakan dalam menulis geguritan sehingga bisa menambah unsur estetika atau keindahan suatu geguritan, seperti majas personifikasi, metafora dan simile atau pepindhan.

Lewat kegiatan ini, semangat untuk menjaga sastra dan budaya Jawa tetap hidup pun tumbuh di kalangan generasi muda. Dari bait-bait geguritan sederhana yang lahir di ruang kelas, terpatri harapan besar bahwa sastra Jawa akan terus hidup, dibaca, dan dicintai oleh anak-anak bangsa di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)