Pelatihan Cyber Ansor, Tangkal Disinformasi Secara Holistik

  • Nov 30, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Teknologi

Sleman - Di tengah gempuran informasi palsu dan teknologi deepfake yang semakin canggih, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan pengelolaan media dan Cyber Ansor khusus bagi Pengurus Bidang Inovasi, Teknologi Informasi dan Media Digital. 

Kegiatan peningkatan kapasitas yang digelar Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Gedung Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Jl. Kusumanegara 133 Yogyakarta, Minggu (30/11/2025) menjadi langkah strategis organisasi kepemudaan Nahdliyin dalam memperkuat literasi digital kadernya.

Sekretaris PW Gerakan Pemuda Ansor DIY, Lilik Budi Hartanto menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar teknis pengelolaan media sosial, melainkan upaya membangun “imunitas kolektif” organisasi terhadap ancaman disinformasi yang dapat memecah belah umat dan bangsa.

“Di era sekarang, hoax dan deepfake bukan lagi sekadar konten viral, tapi sudah menjadi senjata politik dan ideologi. Kalau kader Ansor tidak siap, kita bisa jadi korban sekaligus penyebar tanpa sadar,” ujar Lilik saat membuka acara.

Pelatihan yang terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia ini sebagai respons strategis terhadap maraknya penyebaran disinformasi dan teknologi deepfake yang semakin mengancam stabilitas informasi di masyarakat. 

Materi perihal tantangan dan kebutuhan strategi baru gerakan diberikan oleh Wahyudi Djafar selaku Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor sekaligus Sekretaris Badan Siber Ansor. Ia menjelaskan tentang ancaman proliferasi deepfake, propaganda dan beragam tekniknya, mengenali disinformasi/fakenews/hoax/deepfake, faktor pemicu maraknya disinformasi, beragam bentuk penyalahgunaan deepfake dan dampaknya, mengidentifikasi disinformer, pentingnya literasi informasi dan literasi digital, serta pengembangan strategi holistik yang harus dilakukan GP Ansor.

“Di dunia maya, informasi palsu bisa menyebar lebih cepat dari kebenaran. Deepfake bahkan mampu memanipulasi video dan audio tokoh-tokoh penting hingga tampak sangat meyakinkan. Sebagai garda terdepan pemuda Nahdlatul Ulama, kader Ansor harus memiliki kapasitas untuk mendeteksi, menangkal, dan melawan hoaks serta disinformasi,” ungkap Wahyudi bersemangat.

Menurutnya, Bidang II yang membidangi media digital memiliki peran krusial dalam memastikan konten-konten yang beredar di platform digital sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan.

Materi pelatihan disusun dengan pendekatan komprehensif yang mencakup literasi digital dan verifikasi fakta. Peserta dibekali keterampilan dalam menggunakan berbagai tools verifikasi seperti reverse image search, metadata analysis, dan platform fact-checking untuk mengidentifikasi konten palsu. Kemudian diberi pemahaman teknologi deepfake seperti cara kerja artificial intelligence (AI) dalam menciptakan konten sintetis, sekaligus teknik-teknik untuk mendeteksi manipulasi pada video dan audio.

Yang tak kalah penting adalah etika bermedia sosial. Wahyudi memberikan penguatan pemahaman mengenai tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi, termasuk prinsip tabayyun (klarifikasi) yang diajarkan dalam Islam. Termasuk strategi Counter-Narrative dengan melatih kader menyusun konten positif dan narasi alternatif untuk melawan hoaks, bukan sekadar membantah, melainkan membangun wacana yang konstruktif. 

Pelatihan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader Ansor Sleman dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus menjaga masyarakat dari bahaya informasi palsu yang dapat memecah belah persatuan bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamp