Pembawa Acara Tak Sekadar Penyaji Acara

  • Oct 26, 2017
  • Adnan Nurtjahjo
  • Literasi

Gamping – Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadikan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra. Melalui gerakan cinta bahasa Indonesia dengan tema Martabatkan Bahasa dan Sastra Indonesia Eratkan Kebhinnekaan, Balai Bahasa DIY mengadakan pelatihan pembawa acara bagi masyarakat umum, Kamis (26/10) pukul 09.00 WIB di Ruang Sutan Takdir Alisyahbana Balai Bahasa Yogyakarta.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini ditunjukkan dengan banyaknya pendaftar dari berbagai daerah dan beragam profesi, termasuk KIM Kecamatan Gamping yang diwakili Adnan Iman Nurtjahjo. Peserta lain berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti dari NTB, Kalimantan Selatan, Cirebon, Purworejo, Surakarta, dan kabupaten/kota di DIY.

Dalam sambutannya mengawali acara, Kepala Balai Bahasa DIY, Pardi Suratno, menghimbau masyarakat untuk menggunakan bahasa yang baik merupakan bagian etika berbahasa dan bentuk menghormati orang lain. Di akhir sambutan, Pardi juga berpesan agar masyarakat dapat berbahasa secara baik, santun, dan benar.

Pelatihan ini menghadirkan Lusy Laksita, Presenter Jogja TV dan Ferry Anggara Presenter TVRI Yogyakarta dengan moderator Restu Sukesti.

Menjadi seorang pembawa acara memerlukan kemampuan berbahasa yang baik dan dapat dicapai dengan membaca karena dengan membaca bisa mendapatkan banyak istilah. Apabila seseorang memiliki kemampuan berbahasa yang baik dapat berbicara dengan memperhatikan nada, intonasi, diksi, tempo, ekspresi, artikulasi, frasa, dan jeda sehingga pesan bisa tersampaikan dengan baik dan jelas ke audiensi.

Di akhir pelatihan, Ferry Anggara berpesan seorang pembawa acara tidak hanya sekadar sebagai penyaji dan penyampai sebuah acara tapi juga dituntut bisa mengolah acara atau memberi nilai terhadap suatu acara yang dibawakan, serta mengakhiri acara dengan indah. Pembawa acara yang naik panggung tanpa persiapan akan turun panggung tanpa kehormatan. (Adnan Nurtjahjo)