Peran Pelatih Diapresiasi, Empati Atlet Jadi Fondasi Kekuatan Satlat Demak Ijo

  • Apr 08, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Olahraga

Sleman — Penghormatan kepada pelatih menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan mental bertanding para petarung di Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo, Sleman. Nilai ini tidak hanya dipandang sebagai etika, tetapi juga sebagai bagian integral dari proses pembinaan yang berkelanjutan.  

Seperti yang dilakukan petarung Satlat Demak Ijo di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Rabu malam (8/4/2026). Mereka memahami bahwa keberhasilan yang diraih di arena tidak lepas dari peran besar pelatih yang setia membimbing di balik layar.

Pelatih Tarung Derajat Satlat Demak Ijo, Feriyadi dan Muhammad Ruslan, dalam setiap sesi latihan tidak hanya mentransfer teknik dan strategi, tetapi juga menanamkan disiplin, ketangguhan, dan sportivitas. Oleh karena itu, penghormatan kepada pelatih menjadi cerminan kedewasaan seorang petarung. 

“Sikap ini diwujudkan melalui kepatuhan dalam latihan, kesungguhan dalam menjalankan instruksi, serta menjaga nama baik perguruan di dalam maupun di luar arena,” ujar Muhammad Tegar sebagai salah satu petarung berprestasi.

Lebih lanjut, Tegar menegaskan bahwa relasi antara pelatih dan petarung harus dibangun di atas rasa saling menghargai. Pelatih bukan sekadar instruktur, melainkan figur pembimbing yang turut membentuk karakter dan masa depan atlet. Dalam hal ini, penghormatan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi dan pengorbanan yang telah diberikan.

Sementara itu, Feriyadi bersama Muhammad Ruslan selaku Pelatih Tarung Derajat Satlat Demak Ijo menyampaikan apresiasi mendalam atas sikap penghormatan yang ditunjukkan para petarung terhadap pelatih dalam proses pembinaan. Menurutnya, penghormatan tersebut menjadi modal penting dalam membangun atmosfer latihan yang sehat, disiplin, dan berkarakter.

“Hubungan antara pelatih dan petarung bukan sekadar hubungan instruksional, melainkan ikatan moral yang dibangun di atas kepercayaan dan tanggung jawab bersama. Sikap hormat yang ditunjukkan para petarung dinilai sebagai cerminan keberhasilan pembinaan karakter di luar aspek teknis olahraga,” jelasnya.

Feriyadi menyebutkan, rasa hormat tersebut menjadi energi tambahan bagi dirinya dan tim pelatih untuk terus memberikan yang terbaik. Dedikasi yang ditunjukkan para petarung dianggap sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras yang selama ini dilakukan dalam membina kemampuan fisik, teknik, dan mental bertanding.

Ia pun menyoroti pentingnya empati yang mulai tumbuh di kalangan anak didiknya. Menurutnya, pemahaman petarung terhadap perjuangan pelatih, termasuk waktu dan tenaga yang dicurahkan dalam setiap sesi latihan, menunjukkan kedewasaan berpikir yang patut diapresiasi. Hal ini sekaligus memperkuat ikatan emosional di dalam lingkungan satlat.

“Budaya hormat yang telah terbentuk di Satlat Demak Ijo harus menjadi identitas yang melekat pada setiap atlet, baik saat berlatih maupun ketika bertanding di luar daerah. Nilai tersebut diyakini akan menjadi pembeda yang membentuk karakter petarung sejati,” pungkas Feriyadi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)