Perlunya Konservasi Mata Air dan Pengelolaan Air Hujan Sebagai Gerakan Kolektif

  • Aug 30, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Komunitas , Lingkungan Hidup

Sleman - Menjaga air sama artinya menjaga kehidupan. Itulah pesan kuat yang mengalir dari pelatihan konservasi mata air dan pengelolaan air hujan yang diselenggarakan Yayasan Gugah Nurani Indonesia bersama Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman di Wisma Pancoeran, Giripurwo, Sabtu (30/8/2025).

Kegiatan ini menghadirkan semangat kolektif bahwa setiap orang, dari rumah tangga hingga komunitas, bisa berkontribusi menyelamatkan sumber daya air. Lebih dari sekadar teknis, pelatihan ini mengajarkan nilai kebersamaan dalam merawat sumber kehidupan.

Puluhan peserta dari berbagai komunitas, kelompok tani, hingga penggerak lingkungan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan sumber daya air mengikuti pelatihan yang diberikan Sri Wahyuningsih selaku Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman.

Pelatihan dirancang tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga praktik langsung dalam mengelola air hujan sebagai alternatif sumber daya air. Menurut Wahyuningsih, langkah ini penting karena ketersediaan mata air kian terancam akibat perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan peningkatan jumlah penduduk.

“Air hujan yang selama ini hanya dianggap sebagai limpasan, bisa menjadi penyelamat jika dikelola dengan benar,” ucapnya.

SAH Banyu Bening Sleman yang menjadi mitra kegiatan turut membagikan pengalaman panjangnya dalam mengembangkan teknologi sederhana pemanenan air hujan. Melalui praktik pembuatan instalasi penampungan, peserta diajak menyadari bahwa setiap rumah tangga dapat berkontribusi mengurangi krisis air dengan memanfaatkan potensi yang ada di atap rumahnya.

Peserta pelatihan menyadari betul ternyata air hujan sangat luar biasa penuh kemanfaatan. Lima konsep air hujan diterangkan secara detail oleh Wahyuningsih. Mulai dari menampung air hujan secara manual langsung dipraktikkan oleh peserta. Kuncinya, lewatkan hujan terlebih dahulu selama 5-15 menit agar polutan seperti asap, debu dan kotoran lain nya jatuh ke tanah hingga air hujan sudah bersih.

“Ciri kualitas udara yang bagus dan bersih yaitu adanya hewan Capung (kinjeng, sibar-sibar) terbang di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Lebih lanjut, A.J. Purwanto selaku Teknisi Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) menambahkan bahwa manfaat lumbung air hujan yaitu memastikan ketersediaan sumber air alternatif sepanjang tahun. Masyarakat tidak lagi bergantung penuh pada sumber mata air yang debitnya menurun, apalagi saat kemarau panjang.

“Dengan adanya lumbung air hujan maka kebutuhan dasar seperti air minum, memasak, hingga keperluan sanitasi lebih terjamin,” tandasnya.

Instalasi lumbung air hujan memberi dampak positif terhadap lingkungan. Dengan adanya penampungan, aliran air hujan dapat dikendalikan sehingga mengurangi erosi tanah dan potensi longsor. Sistem ini juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air. Upaya sederhana menjaga mata air dan memanen air hujan bukan hanya soal lingkungan saja, melainkan gerakan kolektif untuk memastikan kehidupan tetap mengalir di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)