Pokdakan Mina Ngremboko Terapkan Teknologi IoT untuk Budidaya Lele

  • May 23, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pemberdayaan

Sleman — Pemanfaatan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) kini mulai menjadi terobosan penting sekaligus kiblat baru dalam pengembangan budidaya ikan lele di Kabupaten Sleman. Inovasi mutakhir tersebut resmi diterapkan oleh Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mina Ngremboko yang berlokasi di Kapanewon Ngemplak sebagai langkah taktis meningkatkan produktivitas, efisiensi kerja, serta kualitas hasil panen di tengah dinamika tantangan sektor perikanan modern.

Penerapan ekosistem digital di kolam budidaya lele ini dilakukan melalui instalasi berbagai instrumen gawai cerdas yang mampu melakukan pemantauan kondisi air kolam secara waktu nyata (real time). Struktur teknologi digital tersebut meliputi sensor pengukur suhu, detektor kadar oksigen terlarut, alat pemantau tingkat keasaman air (pH), hingga sistem mesin pemberian pakan otomatis (automatic feeder) yang semuanya terintegrasi langsung ke dalam aplikasi ponsel pintar.

Di hadapan para peserta pelatihan pada Sabtu (23/5/2026), Ketua Pokdakan Mina Ngremboko, Saptono, menjelaskan secara detail bahwa adopsi teknologi IoT ini sangat membantu menghemat tenaga para pembudidaya dalam mengontrol ekosistem kolam karena tidak perlu lagi melakukan pengecekan manual konvensional secara terus-menerus. Melalui sistem otomatisasi ini, para petambak dapat mendeteksi fluktuasi perubahan kualitas air secara cepat sehingga potensi risiko kematian massal pada benih ikan dapat ditekan sekecil mungkin.

“Selama ini faktor perubahan kualitas air yang mendadak sering kali menjadi penyebab utama runtuhnya produktivitas budidaya lele di tingkat petambak. Melalui skema IoT, setiap pergeseran parameter kondisi kolam dapat terdeteksi lebih dini lewat notifikasi sistem sehingga langkah mitigasi penanganan dapat segera kami eksekusi sebelum berdampak fatal pada kesehatan ikan,” ujar Saptono saat memamerkan cara kerja alat tersebut.

Di samping mendongkrak efisiensi waktu, teknologi otomatisasi berbasis digital ini juga dinilai sangat efektif untuk memangkas pengeluaran pakan ikan yang selama ini menjadi komponen biaya operasional terbesar bagi para petambak. Dalam usaha budidaya lele, pakan umumnya menyedot anggaran hingga sekitar 60 persen dari total biaya produksi operasional secara keseluruhan. Kehadiran sistem otomatis membantu mengatur ketepatan jadwal frekuensi makan serta takaran dosis pakan secara presisi sehingga mampu menihilkan sisa pakan yang terbuang sia-sia.

Saptono menambahkan bahwa langkah digitalisasi sektor perikanan darat ini merupakan bagian dari arus besar transformasi menuju era pertanian dan perikanan pintar (smart farming dan smart aquaculture). Para pelaku usaha budidaya di tingkat lokal dituntut untuk mulai adaptif terhadap gelombang perkembangan teknologi informasi agar memiliki daya saing yang kuat dalam memenuhi lonjakan kebutuhan pangan nasional dan ekspektasi standarisasi pasar yang kian ketat.

“Kita tidak boleh tertinggal oleh zaman jika ingin sektor ini bertahan. Kami membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak hanya milik industri besar, melainkan bisa diadopsi secara mandiri oleh kelompok pembudidaya di tingkat pedesaan untuk mendongkrak ekonomi warga,” kata Saptono.

Keberhasilan implementasi teknologi IoT di kolam milik Pokdakan Mina Ngremboko ini sekaligus menjadi prototipe nyata bahwa kelompok masyarakat akar rumput mampu melakukan inovasi teknologi secara mandiri. Langkah maju ini dinilai memiliki posisi strategis untuk mengubah citra sektor perikanan yang selama ini dianggap kuno, sehingga diharapkan mampu memikat ketertarikan generasi muda untuk mau terjun mengelola bisnis perikanan yang kini telah menjelma menjadi sektor yang modern, bersih, dan berbasis digital.

Melalui lompatan inovasi pemanfaatan IoT ini, manajemen Pokdakan Mina Ngremboko optimistis tata niaga dan budidaya lele di wilayah Sleman dapat melaju ke arah yang jauh lebih maju, efisien, ekonomi profit, dan ramah lingkungan secara berkelanjutan. Keberhasilan inovasi digital di sektor hulu ini diharapkan dapat berujung pada peningkatan taraf kesejahteraan para pembudidaya lokal sekaligus memperkokoh ketahanan pangan sektor perikanan daerah secara jangka panjang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)