Promosi Kesehatan Jiwa dan P3LP Perkuat Ketahanan Masyarakat dari Ancaman Narkoba

  • Jun 24, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pelayanan Publik

Sleman — Promosi kesehatan jiwa dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan individu maupun masyarakat terhadap berbagai persoalan kesehatan mental, termasuk risiko penyalahgunaan narkotika. Hal tersebut disampaikan Psikolog Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Jefri Reza Pahlevi, dalam Seminar Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 di Gedung Dekranasda Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026).

Dalam paparannya, Jefri menjelaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan kondisi ketika seseorang mampu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan hidup secara sehat, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, promosi kesehatan jiwa perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurutnya, gangguan kesehatan mental yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari menurunnya kualitas hubungan sosial dan produktivitas hingga munculnya perilaku berisiko, termasuk bunuh diri.

“Salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan sebagian individu mencari pelarian melalui penggunaan zat adiktif ketika menghadapi tekanan psikologis yang berat,” ujarnya.

Jefri menegaskan bahwa upaya meningkatkan kesehatan jiwa bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, hingga komunitas pemuda memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Ia menjelaskan, promosi kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui kampanye pengasuhan positif sebagai bekal bagi orang tua dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara psikologis. Kampanye tersebut dapat dilaksanakan melalui sosialisasi oleh kader dan tenaga kesehatan di Posyandu maupun Puskesmas, pemanfaatan media sosial dan influencer, layanan WhatsApp chatbot, serta Massive Open Online Course (MOOC) atau pelatihan kesehatan daring mandiri yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Enam pesan utama yang perlu disampaikan dalam kampanye kesehatan jiwa meliputi pengelolaan stres, pengelolaan emosi, pembagian peran orang tua, komunikasi yang efektif, bersikap baik, serta penerapan disiplin positif,” jelasnya.

Selain promosi kesehatan jiwa, Jefri juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Menurutnya, kemampuan memberikan dukungan awal kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional dapat membantu mencegah kondisi psikologis menjadi lebih berat.

Program P3LP menyasar berbagai kelompok masyarakat sesuai dengan lingkungannya, seperti guru dan teman sebaya di sekolah, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa di perguruan tinggi, pengelola kepegawaian serta rekan kerja di tempat kerja, hingga kader dan tokoh masyarakat di tingkat komunitas.

Jefri menjelaskan bahwa P3LP memiliki tiga prinsip utama, yaitu memperhatikan, mendengarkan, dan menghubungkan. Memperhatikan berarti mengenali seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional, stres, atau krisis psikologis melalui pengamatan yang peka dan penuh empati. Selanjutnya, mendengarkan dilakukan dengan memberikan ruang bagi individu untuk menyampaikan perasaan dan pengalamannya tanpa dihakimi sehingga mereka merasa diterima dan tidak menghadapi persoalannya sendirian.

Adapun prinsip menghubungkan berarti membantu individu memperoleh dukungan yang dibutuhkan, baik dari keluarga, teman, komunitas, maupun layanan profesional seperti psikolog dan tenaga kesehatan. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut merupakan bentuk bantuan awal yang sederhana, tetapi sangat penting untuk mencegah memburuknya kondisi psikologis seseorang.

“P3LP merupakan bentuk bantuan awal yang diberikan kepada individu yang sedang mengalami peristiwa sulit, tekanan emosional, atau kondisi yang memicu stres. Tujuannya bukan untuk mengobati, melainkan memberikan rasa aman, dukungan, serta membantu seseorang mendapatkan pertolongan yang tepat,” jelasnya.

Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkotika, Jefri menilai kesehatan mental yang baik merupakan salah satu faktor protektif yang kuat. Individu yang mampu mengelola emosi, menyelesaikan masalah, serta memiliki dukungan sosial yang memadai akan lebih mampu menghadapi tekanan dan menolak berbagai pengaruh negatif, termasuk ajakan untuk menggunakan narkotika. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)