Revitalisasi Olahraga Tradisional Jadi Kunci Perkuat Identitas Bangsa di Era Digital
- Apr 19, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Olahraga
Sleman — Upaya menjadikan permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa dinilai kian relevan di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial dan etika yang selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila.
Permainan tradisional seperti gobak sodor, egrang, hingga bakiak panjang terbukti mampu menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, dan tanggung jawab sejak dini. Aktivitas fisik ini mengajarkan setiap individu untuk menghargai aturan, menjunjung tinggi kejujuran, serta membangun solidaritas kelompok yang kuat dalam interaksi sosial langsung.
Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman, Syukron Arief Muttaqin, menegaskan pentingnya integrasi olahraga tradisional ke dalam sistem pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri pembukaan lomba olahraga tradisional dalam rangka HUT ke-92 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Lapangan Baratan, Candibinangun, Sleman, Minggu (19/4/2026) siang.
“Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, kita dihadapkan pada tantangan degradasi nilai sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis budaya yang mampu memperkuat identitas sekaligus membangun kepribadian generasi muda yang berakar pada nilai luhur bangsa. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas,” ujar Syukron Arief Muttaqin di sela-sela kegiatan.
Syukron menambahkan bahwa olahraga asli Indonesia bukan sekadar aktivitas rekreatif, melainkan wahana pendidikan karakter yang efektif. Dalam setiap pergerakan dan strategi permainan, terkandung nilai disiplin dan kejujuran yang menjadi modal utama dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat ini dinilai sangat sejalan dengan napas Pancasila yang menekankan keseimbangan antara hak individu dan kewajiban kolektif.
Lebih lanjut, ia menyoroti nilai gotong royong yang menjadi elemen kunci dalam membangun solidaritas sosial melalui olahraga rakyat. Pola interaksi yang intensif dalam permainan tradisional membentuk karakter individu yang tidak egois dan lebih berorientasi pada kepentingan bersama. Hal ini dianggap sebagai penawar bagi kecenderungan generasi muda saat ini yang lebih akrab dengan permainan digital bersifat individualistik.
“Nilai-nilai dalam olahraga tradisional ini selaras dengan semangat Pancasila. Ada keseimbangan antara individu dan kelompok. Di tengah dominasi budaya populer global, revitalisasi permainan rakyat menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan kearifan lokal agar jati diri bangsa tidak terkikis,” tambahnya.
KPOTI Sleman bersama pemerintah daerah terus mendorong pengarusutamaan olahraga tradisional sebagai bagian dari pembangunan nasional. Langkah konkret seperti integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, penyelenggaraan festival budaya secara rutin, serta dukungan terhadap komunitas pelestari diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan warisan luhur ini tetap lestari bagi generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)