Safari Tarawih MWCNU Gamping: Memaknai Puasa Sebagai Pembentuk Ketaqwaan Umat

  • Feb 28, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman — Safari tarawih keliling yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Gamping kembali menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di Mushola Darul Barokah, Trihanggo, Gamping, Sleman, pada Sabtu (28/2/2026) ini dihadiri oleh jama’ah dari berbagai unsur masyarakat, pengurus Nahdlatul Ulama setempat, serta tokoh agama.

Rois Syuriah MWCNU Gamping, KH. Ahmad Mabarun dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang terus menjaga semangat kebersamaan dalam setiap kegiatan keagamaan. “Semoga safari tarawih ini dapat terus menjadi media dakwah yang efektif dalam memperkuat nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kyai Hamdanudin menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya memaknai ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai sarana menempa ketaqwaan umat muslim. Ia mengingatkan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual yang mendalam dan harus dijalani dengan kesadaran penuh.

Menurutnya, inti dari ibadah puasa adalah pembentukan karakter yang berlandaskan ketakwaan. Ketaqwaan ini tidak hanya tercermin dalam hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga dalam hubungan sosial antar sesama manusia. 

“Puasa adalah latihan pengendalian diri yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Kyai Hamdanudin.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa orang yang berpuasa sejatinya sedang menjalani proses pendidikan ruhani. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk menahan hawa nafsu, menjaga lisan, serta menghindari perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah. Dengan demikian, puasa menjadi media pembentukan akhlak yang luhur.

Dalam konteks kehidupan sosial, Kyai Hamdanudin mengajak jama’ah untuk menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana memperkuat kepedulian terhadap sesama. Ia menilai bahwa solidaritas dan empati harus tumbuh seiring dengan meningkatnya kualitas ibadah individu.

“Keberhasilan puasa tidak diukur dari seberapa lama seseorang menahan lapar, tetapi dari sejauh mana perubahan sikap dan perilaku setelah menjalani ibadah puasa. Jika berpuasa mampu menjadikan seseorang lebih sabar, jujur, dan peduli, maka tujuan ketaqwaan telah mulai terwujud,” jelasnya.

Safari tarawih juga menjadi wadah konsolidasi warga Nahdliyin di wilayah Gamping. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi antara pengurus dan masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan umat muslim semakin memahami bahwa puasa bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses pembinaan diri menuju pribadi yang bertaqwa. Nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan diharapkan mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)