SAH Banyu Bening Sleman dan Kopilubi Usung Festival Kopi Berbasis Air Hujan
- May 04, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Kuliner
Sleman — Gagasan penyelenggaraan Festival Kopi Air Hujan yang diinisiasi oleh Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menjadi terobosan baru dalam mengintegrasikan isu lingkungan dengan budaya konsumsi kopi di masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya menghadirkan inovasi dalam pengolahan air hujan sebagai bahan seduh kopi, namun juga memperkuat kesadaran publik perihal pentingnya konservasi air di tengah tantangan krisis lingkungan yang kian nyata.
Menurut Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih di sekolah setempat, Senin (4/5/2026), festival ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus apresiasi terhadap praktik berkelanjutan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Air hujan yang selama ini kerap dipandang sebagai sumber air alternatif, diolah melalui sistem Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) dan elektrolisa air sehingga layak digunakan sebagai air minum, termasuk untuk menyeduh kopi berkualitas tinggi,” tandas Wahyuningsih.
Kolaborasi dengan barista Kopilubi menjadi elemen penting dalam memastikan kualitas rasa dan pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Barista berperan dalam menguji serta mengeksplorasi karakter rasa kopi yang diseduh menggunakan air hujan, sekaligus membuktikan bahwa air hujan yang diolah dengan benar mampu menghasilkan cita rasa yang kompetitif.
Hal senada dikatakan Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Kamaludin bahwa festival yang akan digelar bukan sekadar ajang seremonial, melainkan gerakan kultural yang menghubungkan praktik ekologis dengan gaya hidup modern.
“Kopi sebagai komoditas populer dipilih sebagai medium kampanye karena memiliki daya tarik luas semua kalangan, terutama di kalangan generasi muda,” jelasnya.
Lebih jauh, festival ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap air hujan. Selama ini, air hujan sering dianggap kurang layak konsumsi, padahal dengan teknologi yang tepat, kualitasnya dapat memenuhi standar kesehatan. Melalui pendekatan yang kreatif dan kontekstual, edukasi menjadi lebih mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Yang tak kalah penting, kehadiran Festival Kopi Air Hujan juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha lokal. UMKM kopi, petani, hingga pengelola kedai dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan produk berbasis keberlanjutan.
“Selain itu, festival ini berpotensi menjadi agenda wisata tematik yang memperkuat identitas Sleman sebagai daerah inovatif di bidang lingkungan,” lanjut Kamaludin.
Sementara itu, Teuku Elwin selaku Barista sekaligus pemilik Kedai Kopilubi yang punya ikon “Bayar Kopi Seikhlasnya” menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai bahwa penggunaan air hujan justru membuka ruang eksplorasi baru dalam dunia brewing. Kandungan mineral yang relatif berbeda dibanding air tanah atau air kemasan membuat proses ekstraksi kopi menjadi unik, sehingga menghasilkan cita rasa yang tidak biasa namun tetap menarik.
“Kualitas air merupakan salah satu faktor paling krusial dalam menentukan hasil akhir seduhan kopi. Air hujan yang telah melalui proses filtrasi dan pengolahan seperti sistem ISLAH dan elektrolisa air dinilai memiliki potensi menghasilkan profil rasa yang bersih (clean cup) dan lebih ringan, sehingga karakter asli biji kopi dapat lebih menonjol,” ungkap Teuku Elwin sambil mempraktikkan cara menyeduh kopi secara manual.
Dari sisi edukasi, festival ini juga melibatkan masyarakat, pelajar, dan komunitas lingkungan dalam berbagai kegiatan seperti workshop, diskusi, hingga demonstrasi pengolahan air hujan. Hal ini menjadi strategi efektif untuk membangun literasi lingkungan yang berbasis pengalaman langsung, bukan sekadar teori.
“Inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis air dapat dimulai dari langkah sederhana namun berdampak luas. Sleman pun berpotensi menjadi pelopor gerakan serupa di tingkat nasional, bahkan global, dalam mempromosikan pemanfaatan air hujan secara berkelanjutan,” pungkas Teuku Elwin. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)