SAH Banyu Bening Sleman Dorong Pondok Pesantren Miliki Lumbung Air Bersih
- Jun 04, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman — Pemanfaatan air hujan sebagai sumber air bersih dan air minum kembali mendapat perhatian melalui kegiatan sosialisasi yang disampaikan Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, di Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda`wah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan tersebut memperkenalkan teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) dan elektrolisa, sebuah inovasi teknologi terbarukan tahun 2026 yang dirancang untuk mengoptimalkan pemanenan dan pengelolaan air hujan secara aman, sehat, dan berkelanjutan.
Dalam keterangannya di Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Kamis (4/6/2026), Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa air hujan merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat melalui teknologi yang sesuai, air hujan bisa menjadi alternatif sumber air bersih bahkan air minum yang mampu mendukung kebutuhan masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren.
“Masalah utama di pesantren Darul Ilmi Wadda’wah yang memiliki 500 santri dan 100 pengajar ini adalah akses air bersih terutama air minum. Akses air bersih inilah yang menjadi kendala kesehatan para santri seperti dehidrasi dan gatal-gatal,” terang Wahyuningsih.
Menurutnya, tantangan ketersediaan air bersih saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah sumber air yang semakin terbatas, tetapi juga kualitas air yang terus mengalami tekanan akibat pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Karenanya, diperlukan solusi inovatif yang mudah diterapkan, ramah lingkungan, dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.
Dalam kesempatan itu, Wahyuningsih memperkenalkan teknologi ISLAH sebagai sistem pemanenan air hujan yang terintegrasi mulai dari proses pemanenan, penyaringan, penyimpanan, hingga pengolahan air agar layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sistem ini memanfaatkan prinsip pengelolaan air berkelanjutan dengan biaya operasional yang relatif rendah dan mudah dirawat oleh pengguna,” tandasnya.
Selanjutnya, Wahyuningsih menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mengenai konservasi air sejak dini. Pesantren dinilai dapat menjadi pusat edukasi lingkungan yang efektif karena memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap keberlanjutan sumber daya alam.
“Pesantren memiliki potensi besar dalam penerapan teknologi ISLAH dan elektrolisa karena umumnya memiliki area atap bangunan yang luas sebagai media penangkap air hujan. Dengan dukungan sistem ISLAH, air hujan yang selama ini terbuang dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan santri maupun pengelola pesantren,” sambungnya.
Pengurus Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda' Wah mengapresiasi praktik baik tersebut karena dilengkapi dengan pemasangan ISLAH dan elektrolisa air hujan di lingkungan pondok pesantren sebagai aksi nyata sebagai penyelesaian masalah.
Wahyuningsih berharap, teknologi ISLAH menjadi solusi nyata untuk meningkatkan kemandirian air di lingkungan pesantren sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air konvensional yang ketersediaannya tidak selalu stabil sepanjang tahun. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)