SAH Banyu Bening Sleman Jadi Laboratorium Alam Siswa MI Ma’arif Sambego
- Feb 05, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Pendidikan
Sleman - Outing class yang diikuti 77 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Sambego beserta wali siswa menjadi sarana pembelajaran kontekstual tentang pentingnya pengelolaan dan pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alternatif. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Tempursari, Kabupaten Sleman, Kamis (5/2/2026) dengan tujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Kegiatan hasil kerjasama MI Ma’arif Sambego dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berpusat di Jepang, OISCA (Organization for Industrial and Cultural Advancement) ini sangat relevan dengan tantangan lingkungan saat ini, khususnya terkait ketersediaan air bersih.
Nur Partiningsih dari perwakilan OISCA sekaligus pendamping kegiatan ini mengatakan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu membentuk pola pikir siswa agar lebih peduli terhadap kelestarian sumber daya alam di sekitarnya.
“Pembelajaran ini dapat merubah cara pandang generasi muda terutama di lingkungan rumah bahwa air hujan bisa dimanfaatkan sebagai air minum yang bersih dan menyehatkan,” ungkapnya.
Pihaknya memilih Sekolah Air Hujan Banyu Bening karena dikenal sebagai pusat edukasi lingkungan yang fokus pada pengelolaan air hujan berbasis masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, para fasilitator memberikan penjelasan sederhana dan interaktif cara mengelola dan memanfaatkan air hujan baik di sekolah dan lingkungan rumahnya agar mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.
Partiningsih menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan upaya penguatan pendidikan karakter di madrasah, terutama dalam membangun sikap peduli lingkungan, disiplin, dan kerja sama. Melalui pengalaman langsung, siswa diharapkan mampu menerapkan kebiasaan hemat air dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Kunjungan disambut baik oleh Sri Wahyuningsih selaku Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari melihat instalasi penampungan air hujan hingga mencoba proses penyaringan. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di luar kelas mampu meningkatkan minat belajar sekaligus rasa ingin tahu siswa terhadap isu lingkungan.
“Edukasi sejak dini menjadi kunci dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pengelolaan sumber daya air dan lingkungan hidup,” tandas Wahyuningsih.
Selain aspek teknis, outing class ini juga menekankan nilai-nilai tanggung jawab dan kearifan lokal dalam memanfaatkan air hujan. Para siswa diajak memahami bahwa air merupakan anugerah yang harus dikelola secara bijak untuk keberlanjutan kehidupan.
Pihak MI Ma’arif Sambego berharap para siswa memperoleh pengetahuan baru sekaligus pengalaman berharga tentang pentingnya air hujan sebagai sumber air alternatif. Sekaligus dapat menginspirasi sekolah lain untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual yang berorientasi pada kelestarian lingkungan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping