SAH Banyu Bening Sleman Menyemai Kesadaran Lingkungan Lewat Wayang Kulit
- Sep 07, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya, Lingkungan Hidup
Sleman – Ratusan warga Tempursari berkumpul di pelataran Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Minggu (7/9/2025) untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Banyu Urip yang dibawakan oleh dalang sekaligus akademisi pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof. Dr. Junaidi.
Pertunjukan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Kenduri Banyu Udan ke-10 SAH Banyu Bening Sleman, sebuah agenda tahunan yang telah dikenal luas sebagai ruang refleksi, edukasi, dan budaya perihal pentingnya mengelola air hujan bagi kehidupan.
Wayang kulit bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Melalui lakon Banyu Urip, Prof. Junaidi mengajak masyarakat merenungkan kembali filosofi air sebagai sumber kehidupan. Air bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual, sosial, bahkan kultural.
Founder SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengungkapkan bahwa kisah pewayangan yang disajikan dengan humor, simbol, dan nasihat moral tersebut menyentuh kesadaran kolektif warga mengenai betapa krusialnya menjaga kelestarian sumber daya air.
“Nilai-nilai inilah yang menyatu dengan semangat Kenduri Banyu Udan,” ucapnya.
Lakon Banyu Urip sendiri menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh wayang dalam mengelola dan menjaga sumber kehidupan. Dalam balutan kisah klasik, terselip pesan yang sangat kontekstual yakni bagaimana manusia modern perlu bijak menggunakan air, tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, dan selalu mengingat bahwa air adalah titipan untuk generasi mendatang.
Yang paling penting, pagelaran ini bukan hanya hiburan, melainkan media edukasi yang efektif. Ketika pesan lingkungan disampaikan lewat ceramah atau diskusi, kadang terasa berat. Namun, saat diramu dalam alur pewayangan yang memikat, masyarakat bisa menerima pesan itu dengan lebih ringan sekaligus mendalam. Kehadiran Prof. Junaidi sebagai dalang memberi kekuatan tambahan, karena ia piawai memadukan ilmu pengetahuan, filosofi, dan seni pertunjukan.
Wahyuningsih menambahkan, Kenduri Banyu Udan yang telah memasuki dekade ke-10 semakin meneguhkan dirinya sebagai ruang dialog antara tradisi dan inovasi. Keseimbangan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari akar budaya masyarakat.
Bagi warga Sleman, terutama generasi muda, pengalaman menonton wayang kulit di tengah agenda lingkungan adalah sebuah pendidikan holistik. Mereka dapat belajar bahwa menjaga air bukan hanya urusan teknis atau teknologi, melainkan juga bagian dari nilai-nilai budaya yang harus diwariskan. Pesan ini sejalan dengan visi Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang menggabungkan sains, seni, dan spiritualitas.
Wayang kulit yang berabad-abad menjadi warisan leluhur kini diperkaya dengan wacana ekologi. Hal ini membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Pertunjukan ini meninggalkan kesan mendalam, bahwa air adalah kehidupan yang harus dijaga bersama. Melalui seni, pesan itu tidak hanya masuk ke akal, tetapi juga meresap ke dalam jiwa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)