SAH Banyu Bening Sleman Sosialisasikan Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Air Untuk Pertanian Krisan
- Jun 01, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman — Pengelolaan air merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas sektor pertanian, terutama pada komoditas bunga krisan yang membutuhkan ketersediaan air secara konsisten untuk menghasilkan kualitas bunga yang optimal.
Upaya mendorong pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan terus dilakukan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Pertamina Geothermal Energy Lahendong yang menggandeng Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman untuk melakukan sosialisasi teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) dan elektrolisa air di kawasan pertanian bunga krisan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Saat ditemui di kediamannya, Tempursari, Ngaglik, Sleman, Senin (1/6/2026), Sri Wahyuningsih selaku pendiri SAH Banyu Bening mengatakan bahwa teknologi ISLAH hadir sebagai solusi untuk memanen dan menyimpan air hujan yang selama ini sering terbuang percuma. Melalui sistem tersebut, air hujan dapat ditampung dalam jumlah besar dan dimanfaatkan kembali saat musim kemarau atau ketika pasokan air mengalami penurunan.
“Air hujan merupakan sumber daya yang sangat melimpah di Indonesia. Jika dikelola dengan baik melalui sistem lumbung air hujan, petani dapat memiliki cadangan air yang cukup untuk mendukung kegiatan pertanian sepanjang tahun,” ujar Wahyuningsih.
Selain memperkenalkan teknologi ISLAH, dia juga menerangkan perihal teknologi elektrolisa air. Teknologi ini untuk meningkatkan kualitas air hujan yang sudah bagus menjadi lebih bagus melalui proses pemisahan molekul air untuk menghasilkan air yangbersifat asam dan basa yang memiliki manfaat masing-masing.
Menurut Wahyuningsih, kombinasi antara pemanenan air hujan dan pemanfaatan teknologi elektrolisa dapat dijadikan terobosan baru dalam mendukung pertanian modern. Dengan pengelolaan air yang lebih baik, petani mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber air konvensional, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan sekitar.
Ia menilai teknologi yang diperkenalkan memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam usaha budidaya bunga krisan, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan air.
“Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya memperkenalkan teknologi pemanenan air hujan, namun juga membuka perspektif baru tentang pentingnya pemanfaatan air hujan sebagai solusi ketersediaan air bersih di Kota Tomohon,” tutur Wahyuningsih.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan semakin banyak petani yang memahami pentingnya konservasi air dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam sektor pertanian. Penerapan teknologi ISLAH dan elektrolisa air diyakini dapat menjadi langkah nyata menuju pertanian yang lebih berkelanjutan, produktif, serta mampu menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.
“Semoga pengetahuan baru tentang pemanfaatan dan pengelolaan air hujan ini bisa berlanjut ke depan yang dengan langkah-langkah aksi lainnya yang pastinya sangat bermanfaat tidak hanya berhenti di tataran sosialisasi saja,” ucap Wahyuningsih mengakhiri pembicaraannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)