SAH Banyu Bening Sleman Tanam Kesadaran Lingkungan Lewat Pemanfaatan Air Hujan
- Nov 09, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman – Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman berbagi pengetahuan tentang pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif dalam sosialisasi yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Kegiatan bertajuk “Sosialisasi Air Hujan Sebagai Sumber Air Alternatif” ini berlangsung di Dusun Curen Kulon, Desa Melikan, Klaten pada Minggu (9/11/2025).
Sri Wahyuningsih, pendiri SAH Banyu Bening Sleman, hadir sebagai pemateri utama dalam acara yang menjadi ruang belajar bersama tentang pentingnya air hujan dalam kehidupan sehari-hari dan potensinya mengatasi tantangan krisis air di masa depan.
Dalam presentasinya, Wahyuningsih menjelaskan bahwa air hujan tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki nilai kesehatan jika dikelola dengan benar. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan talang dan tandon penampungan agar kualitas air tetap terjamin.
“Edukasi mengenai air hujan perlu dikenalkan sejak dini, terutama kepada generasi muda seperti mahasiswa KKN, karena air hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan simbol keberlanjutan hidup. Jika mampu mengelolanya dengan baik, berarti ikut menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Kegiatan tidak hanya terbatas pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup pemutaran video edukatif, penjelasan teknik penampungan air hujan secara manual dan menggunakan teknologi, serta demonstrasi perbandingan kualitas air hujan dan air sumur. Peserta dapat melihat langsung perbedaan hasil pengecekan menggunakan alat Total Dissolved Solids (TDS) dari berbagai jenis air, termasuk air hujan.
Sosialisasi ini menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa KKN untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial serta lingkungan setempat. Melalui diskusi ringan bersama warga, mahasiswa memperoleh banyak informasi mengenai kualitas air yang dikonsumsi masyarakat.
Dari hasil pengamatan, sebagian besar warga masih bergantung pada sumur bor dengan air yang cenderung payau. Karena itu, sosialisasi ini diharapkan dapat membuka wawasan warga tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air secara mandiri.
“Kita bisa mulai dari komunitas terkecil, dari rumah dan lingkungan sekitar, untuk memanfaatkan setiap tetes hujan agar tidak terbuang percuma,” tandas Wahyuningsih.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tempat mereka mengabdi. Dengan pendampingan dari Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, masyarakat setempat diharapkan dapat mengembangkan sistem penampungan dan pemanfaatan air hujan secara mandiri dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Gamping)