Sanggar Widya Pramana Banyuraden Cetak Regenerasi Dalang Muda
- May 04, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman — Seni tradisi wayang kulit terus berupaya mencari celah untuk tetap eksis di tengah kepungan budaya modern. Sebagai langkah nyata menjaga kelestarian tersebut, Sanggar Widya Pramana Banyuraden menginisiasi pelatihan dalang intensif bagi generasi muda. Kegiatan ini menjadi ruang belajar strategis sekaligus upaya regenerasi agar akar budaya lokal tidak terputus dari generasi penerus.
Pelatihan atau pasinaon dalang ini dipusatkan di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden pada Senin (4/5/2026). Ketua Sanggar Widya Pramana, Aryo Tejo, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada transfer keterampilan teknis mendalang, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi para peserta. Para siswa atau yang akrab disebut cantrik diperkenalkan pada nilai-nilai filosofis dalam setiap lakon wayang yang sarat akan pesan moral dan etika.
“Hal ini menjadi penting mengingat seni pedalangan bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan medium pendidikan budaya yang sangat dalam. Kami ingin anak-anak muda ini memiliki pondasi karakter yang kuat melalui kearifan lokal yang terkandung dalam dunia pewayangan,” ujar Aryo Tejo di sela-sela kegiatan.
Aryo menyadari bahwa minat generasi muda terhadap seni tradisional bisa menurun jika tidak ada pendekatan yang relevan. Oleh karena itu, sanggar mengemas pelatihan ini secara interaktif dan adaptif, termasuk dengan memanfaatkan media digital untuk menarik perhatian peserta. Dalam proses belajar, para peserta mendapatkan materi dasar yang mencakup teknik vokal, penguasaan karakter tokoh wayang, hingga pengolahan cerita agar tetap komunikatif bagi penonton masa kini.
Instruktur pelatihan, Damar Asmoro, memberikan materi yang komprehensif mulai dari olah suara hingga aspek musikalitas gamelan. Menurutnya, seorang dalang masa depan harus memiliki kombinasi kecerdasan intelektual dan spiritual untuk bisa menghidupkan karakter wayang di atas panggung. Ia menekankan bahwa menjadi dalang berarti memikul tanggung jawab untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat secara menarik.
“Menjadi dalang membutuhkan kombinasi antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Seorang dalang dituntut mampu memahami alur cerita, menghidupkan karakter, sekaligus menyampaikan pesan moral kepada penonton secara komunikatif dan menarik. Kami ingin mereka tidak hanya piawai menggerakkan wayang, tapi juga mampu menyentuh hati penontonnya,” jelas Damar Asmoro.
Inisiatif ini mendapat apresiasi luas dari warga Banyuraden. Banyak orang tua yang melihat pelatihan ini sebagai alternatif kegiatan edukatif yang produktif bagi anak-anak mereka di luar jam sekolah. Selain mengisi waktu dengan hal positif, pelatihan ini secara perlahan menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap identitas budaya sendiri di tengah gempuran tren global.
Regenerasi pelaku seni menjadi kunci utama agar wayang kulit tetap hidup dan relevan bagi masyarakat. Melalui langkah konsisten dari Sanggar Widya Pramana, generasi muda diharapkan tidak hanya berhenti sebagai penonton, melainkan mampu menjadi pelaku aktif yang menjamin keberlangsungan warisan budaya bangsa di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)