Saparan Bekakak Warisan Leluhur Yang Perlu Dirawat Masyarakat Ambarketawang
- Aug 23, 2024
- Aryo Tejo
- Seni Budaya
Sebagai bentuk penghormatan dan peringatan atas pengorbanan abdi dalem Sultan Hamengkubuwono I, yakni Ki Wirosuto dan Nyi Wirosuto yang dipercaya telah mengorbankan dirinya demi keselamatan warga dan Sultan, serta menjaga sekaligus merawat warisan leluhur yang sangat berharga agar nilai-nilai kearifan lokal tidak hilang dan tetap hidup di tengah masyarakat, maka Pemerintah Kalurahan Ambarketawang melaksanakan upacara adat Saparan Bekakak yang berlangsung di Taman Wisata Alam Batu Gamping, Dusun Tlogo, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat Sore (23/8/2024).
Prosesi penyembelihan pengantin bekakak pria dilakukan oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana sedangkan penyembelihan pengantin bekakak Wanita dilakukan Lurah Ambarketawang, Sumaryanto disaksikan Bupati Sleman, Hj. Kustini Sri Purnomo, Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani dan Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Sandro Dwi Rahardian di Altar Gunung Gamping.
Usai melaksanakan penyembelihan sepasang pengantin bekakak yang terbuat dari tepung beras ketan yang diisi cairan gula jawa, Sumaryanto selaku Lurah Ambarketawang menuturkan bahwa ritual upacara adat dilakukan guna menciptakan keseimbangan spiritual, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Ambarketawang.
“Kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan saja, melainkan sebuah ekspresi dari hubungan yang mendalam antara manusia, alam, dan leluhur yang harus terus dihormati agar kedamaian dan kesejahteraan selalu terjaga,” ujarnya.
Selain itu, pelaksanaan upacara adat saparan bekakak dapat berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda. Keterlibatan dalam tradisi ini, anak-anak dan remaja diajarkan untuk memahami nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan pentingnya menjaga tradisi leluhur untuk memastikan bahwa generasi penerus tetap menghargai dan melestarikan warisan budayanya.
Lebih lanjut, Tamzis Sarwana selaku Panewu Gamping menyampaikan apresiasi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan upacara adat ini sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang telah turun temurun dilakukan. Dirinya pun menekankan bahwa saparan bekakak memiliki makna yang mendalam untuk memupuk rasa persatuan, kebersamaan, dan kegotongroyongan diantara warga.
Selanjutnya, Panewu mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam serta tetap menjalankan upacara adat ini dengan penuh syukur dan doa agar keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan selalu menyertai masyarakat seraya berharap agar even saparan bekakak dapat terus menarik wisatawan sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga setempat.
“Tradisi ini mendatangkan wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat karena banyak pedagang dan pengusaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk menawarkan dagangannya kepada para pengunjung,” cetusnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)