Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman Jalin Kerjasama dengan FKM Unhas Kelola Air Hujan

  • Nov 15, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Di tengah tantangan krisis air bersih, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menawarkan perspektif baru mengenai pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alam yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan pendiri SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, dalam kuliah umum bertema “Air Langit Sumber Daya Yang Terabaikan” di sekolah nonformal yang berlokasi di Tempursari, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Sabtu (15/11/2025).

Melalui pengalaman panjangnya, Wahyuningsih diundang sebagai narasumber oleh pimpinan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dua hari sebelumnya. Dalam paparannya, ia mengajak mahasiswa dan akademisi untuk melihat air hujan bukan sebagai ancaman banjir, melainkan sebagai peluang kemandirian.

Ia memaparkan makalah berjudul “Air Hujan Sumber Kehidupan dan Daya Lenting Masyarakat Terhadap Perubahan Iklim,” yang mengenalkan Konsep 5M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri). Konsep ini merupakan pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan air hujan menggunakan Standar Operasional Prosedur tertentu.

Menurut Wahyuningsih, air hujan seharusnya tidak dianggap sebagai limbah. Justru, ia adalah sumber daya alam yang dapat memperkuat ketahanan air, ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat.

“Air hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi berkah yang membersihkan polutan di udara, untuk bisa menyelamatkan bumi jika dikelola dengan ilmu dan kesadaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sri Wahyuningsih menyoroti pentingnya edukasi publik untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap air hujan, yang semula dianggap air kotor atau mengandung mikroplastik, menjadi sumber air bersih bernilai tinggi. Ia menekankan perlunya memuliakan air hujan, mengingat tanpa air, tidak ada kehidupan di bumi ini, baik untuk pertanian, perkebunan, perikanan, maupun peternakan.

“Stop eksploitasi air tanah, sudah saatnya secara empati mengembalikan air hujan ke dalam tanah, karena selama hidup ini tak pernah terpikirkan bahwa air yang diambil adalah warisan dari leluhur terdahulu,” terangnya.

Dukungan muncul dari Sukri Palutturi, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, yang turut menekankan pentingnya inovasi dan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menilai air hujan adalah potensi besar yang belum dimanfaatkan optimal di Indonesia, padahal dapat menjadi solusi atas krisis air bersih.

Sukri menyebutkan bahwa air hujan adalah anugerah yang belum banyak diolah secara bijak. Jika dikelola menggunakan teknologi dan kesadaran yang tepat, maka air hujan bisa menjadi sumber kehidupan dan kemandirian bagi masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa fakultas yang dipimpinnya telah memasang Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan beserta alat untuk meningkatkan mutu air hujan menjadi lebih optimal, karena mampu memisahkan partikel asam dan basa. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen departemen FKM Unhas dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-6, yakni air bersih dan sanitasi layak. (Adnan Nurtjahjo/KIM Gamping)