Simbolisme Keseimbangan Alam dan Spiritual Ogoh-Ogoh dalam Kirab Budaya
- Aug 29, 2024
- Aryo Tejo
- Seni Budaya
Sleman – Penggunaan ogoh-ogoh dalam kirab budaya Asok Glondong Pangareng-Areng Dusun Dowangan merupakan simbolisasi dari perpaduan antara tradisi, spiritualitas, dan penghormatan terhadap kekuatan alam semesta. Ogoh-ogoh yang umumnya berbentuk makhluk mitologis atau raksasa mewakili energi negatif atau kekuatan jahat yang harus dijinakkan dan dikendalikan oleh masyarakat.
Karenanya, penggunaan Ogoh-Ogoh dalam kirab budaya Asok Glondong menjadi simbol penyeimbang antara kekuatan baik dan buruk yang ada di alam dan kehidupan sehari-hari. Hal ini dituturkan Boy Indarto selaku Tokoh Budaya Banyuraden saat memandu jalannya prosesi kirab di panggung utama yang berada di depan Lapangan Sepak Bola Banyuraden, Kapanewon Gamping, Minggu (27/8/2024).
Menurutnya, Ogoh-ogoh dalam prosesi ini juga melambangkan kekuatan magis yang diyakini mampu menangkal energi negatif dari lingkungan sekitar sekaligus membawa energi positif ke dalam masyarakat yang harus selalu dijaga agar kehidupan berjalan secara harmonis dan penuh kedamaian.
Lebih lanjut, pembuatan ogoh-ogoh bukan hanya sekedar membutuhkan keterampilan saja. Namun juga merupakan sebuah proses spiritual, karena para pembuat ogoh-ogoh harus mengikuti ritual tertentu dan menjaga kesucian hati mereka. Berhubung ogoh-ogoh adalah medium yang menghubungkan manusia dengan alam gaib, maka setiap detil dari bentuk ogoh-ogoh tersebut mengandung makna simbolis yang dalam seperti kekuatan, perlindungan, atau bahkan peringatan bagi masyarakat.
“Ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni rupa, tetapi merupakan perwujudan nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat yang harus dijaga keseimbangannya antara kekuatan baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Boy.
Asok Glondong Pangareng-Areng sendiri memiliki makna khusus yang terkait dengan keyakinan masyarakat akan adanya roh-roh leluhur yang perlu dihormati dan dijaga melalui berbagai upacara adat. Ogoh-ogoh menjadi salah satu elemen penting dalam upacara ini, karena dianggap mampu menjadi pelindung dari segala bentuk gangguan gaib atau energi buruk yang dapat mengganggu kehidupan warga dusun.
Sedangkan dalam pandangan masyarakat Dusun Dowangan, ogoh-ogoh berfungsi sebagai pengingat akan siklus hidup manusia yang tidak terlepas dari adanya kekuatan baik dan buruk. Lewat arak-arakan ogoh-ogoh tersebut masyarakat berharap dapat mengusir segala bentuk kesialan dan membuka pintu rezeki termasuk keselamatan bagi seluruh warga.
Selain aspek spiritual, Boy menganggap ogoh-ogoh juga menjadi bagian dari identitas budaya yang dapat memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan. Setiap warga berpartisipasi dalam pembuatan dan pengarakannya sehingga menjadikan kirab budaya ini sebagai momen kolektif untuk mempererat ikatan sosial di antara mereka. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)