Strategi Membangun Ketahanan Bisnis Menghadapi Krisis Global Ala Direktur BUMDes Tridadi Makmur Sleman

  • Apr 16, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Berita Pemerintahan

Sleman — Di tengah dinamika krisis global yang terus berkembang mulai dari ketidakpastian ekonomi, disrupsi rantai pasok, hingga perubahan geopolitik, pelaku usaha dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu membangun pondasi bisnis jangka panjang yang kokoh. 

Menurut Raden Agus Choliq selaku Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tridadi Makmur, Kabupaten Sleman, pondasi bisnis jangka panjang tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga mencakup tata kelola yang baik, visi strategis yang jelas, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan. 

“Perusahaan yang memiliki arah jangka panjang cenderung lebih siap menghadapi gejolak, karena telah mengantisipasi berbagai skenario risiko yang mungkin terjadi,” tandasnya dihadapan puluhan perwakilan organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang hadir di Ruang Semeru Prima SR Hotel & Convention, Sleman, Kamis (16/4/2026).

Acara yang mengangkat tema membangun optimisme masyarakat Kabupaten Sleman di tengah krisis global tersebut secara resmi dibuka oleh Eko Nugroho Supriyanto mewakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman.

Dalam paparan materinya, Agus Choliq menekankan bagi pelaku usaha untuk memperkuat manajemen risiko sebagai bagian dari fondasi utama di tengah krisis global. Identifikasi potensi ancaman, diversifikasi sumber pendapatan, serta penguatan cadangan keuangan menjadi langkah strategis yang tidak dapat diabaikan. Sehingga, bisnis tidak mudah goyah ketika menghadapi tekanan eksternal.

Ia menyebutkan berbagai dampak krisis bagi pelaku usaha antara lain inflasi dan kenaikan bahan baku, gangguan rantai pasok, fluktuasi nilai tukar, serta penurunan daya beli. Oleh karena itu, perlu membangun pondasi untuk jangka panjang. 

Upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat bisnis meliputi diversifikasi produk dan pasar agar tidak tergantung pada salah satu segmen saja, membuat model bisnis hybrida (online maupun offline), otomatisasi dan penerapan artificial intelligence untuk mengurangi ketergantungan tenaga kerja manual, serta menerapkan ekonomi sirkular guna mengurangi limbah dan biaya bahan baku.

Selain itu, transformasi digital menjadi elemen penting dalam membangun daya saing jangka panjang. Pemanfaatan teknologi tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, namun juga membuka peluang pasar baru. 

“Bisnis yang mampu mengintegrasikan teknologi dalam model usahanya akan lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan kebutuhan konsumen,” ujar Agus Choliq bersemangat.

Yang tak kalah penting, krisis global dapat menghadirkan peluang bagi bisnis untuk melakukan inovasi. Perubahan perilaku konsumen dan kebutuhan pasar yang dinamis menciptakan ruang bagi produk dan layanan baru. Pelaku usaha yang jeli membaca peluang ini dapat menjadikannya sebagai momentum untuk tumbuh dan berkembang.

“Membangun pondasi bisnis jangka panjang bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis di tengah krisis global. Pelaku usaha yang mampu mengintegrasikan ketahanan, inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan dalam strategi bisnisnya akan memiliki peluang lebih besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memenangkan persaingan di masa depan,” ungkapnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)