Taman Pintar dan SAH Banyubening Sleman Tanamkan Kesadaran Konservasi Air Sejak Dini

  • Apr 27, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan

Sleman — Kolaborasi antara Taman Pintar Yogyakarta dan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menghadirkan inovasi edukatif bagi pelajar dalam memahami pentingnya pengelolaan sumber daya air. Program ini difokuskan pada pengenalan teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) serta metode elektrolisa air hujan sebagai bagian dari pembelajaran sains terapan yang relevan dengan isu lingkungan.

Wahana edukasi tersebut diikuti oleh ratusan siswa dari jenjang pendidikan sekolah menengah pertama yang datang secara bergelombang ke kawasan Taman Pintar. Dalam kegiatan ini, para siswa tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga diajak untuk melihat langsung implementasi teknologi penampungan dan pengolahan air hujan.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih menjelaskan bahwa teknologi ISLAH merupakan sistem sederhana namun efektif untuk mengumpulkan, menyaring, dan menyimpan air hujan agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

“Teknologi ini dinilai sangat relevan diterapkan di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih,” tandas Wahyuningsih di Hall Taman Pintar Yogyakarta, Senin (27/4/2026).

Selain itu, siswa juga diperkenalkan pada proses elektrolisa air hujan, yaitu metode pemisahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan arus listrik. Demonstrasi ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan pengalaman belajar langsung yang interaktif dan berbasis eksperimen.

“Edukasi berbasis sains dan teknologi yang kontekstual dengan mengangkat isu air sebagai tema utama ini, diharapkan dapat membantu para pelajar memahami tantangan lingkungan sekaligus solusi inovatif yang dapat diterapkan sejak dini,” ungkap Wahyuningsih.

Menurutnya, program ini juga menjadi upaya untuk menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan generasi muda. Melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan, siswa diajak untuk lebih peduli terhadap konservasi air dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.

Materi yang disampaikan tidak hanya memperkuat pemahaman konsep sains, namun juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi persoalan lingkungan. Wahyuningsih berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelajar di berbagai daerah lantaran edukasi mengenai air hujan masih sangat penting untuk disosialisasikan secara luas.

Melalui sinergi antara lembaga edukasi dan komunitas lingkungan, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak generasi yang cerdas secara akademis, sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan air sebagai sumber kehidupan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)