Tim Asesor Perpusnas Dorong Perpustakaan Sleman Terapkan Perjenjangan Buku Anak yang Terstruktur
- Dec 18, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Literasi
Sleman – Pedoman perjenjangan buku berdasarkan tingkat kemampuan baca anak dinilai menjadi aspek krusial dalam pengelolaan layanan perpustakaan, khususnya untuk mendukung tumbuh kembang literasi sejak usia dini. Hal itu menjadi salah satu masukan strategis yang disampaikan oleh salah satu Asesor Akreditasi Perpustakaan Nasional, Chaidir Amir dalam kegiatan visitasinya yang berlangsung di Ruang Baca Anak Perpustakaan Kabupaten Sleman, Kamis (18/12/2025).
Dalam proses penilaian akreditasi tersebut, Chaidir menekankan bahwa ketersediaan koleksi buku anak harus disusun secara sistematis berdasarkan jenjang kemampuan membacanya, bukan semata-mata berdasarkan usia.
“Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membantu anak memahami teks secara bertahap sesuai kapasitas kognitif dan literasinya,” tandas Chaidir dihadapan Pengolah Data dan Informasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Nazzatul Farhanah.
Lebih lanjut, Chaidir menjelaskan, perjenjangan buku dapat dimulai dari buku dengan dominasi visual dan teks sederhana, hingga buku dengan struktur kalimat dan kosa kata yang lebih kompleks. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan bacaan, namun juga menghadirkan jalur pembelajaran literasi yang terarah dan berkelanjutan bagi anak.
Masukan tersebut menjadi perhatian penting bagi pengelola perpustakaan daerah Kabupaten Sleman. Mengingat, peran perpustakaan sebagai ruang belajar publik yang inklusif. Penataan koleksi yang tepat diyakini mampu meningkatkan minat baca anak sekaligus meminimalkan kesenjangan kemampuan literasi di kalangan pengunjung usia sekolah.
Selain aspek koleksi, Chaidir menilai bahwa pedoman perjenjangan buku perlu diikuti dengan pemahaman pustakawan terhadap karakteristik pembaca anak.
“Pustakawan diharapkan mampu memberikan rekomendasi bacaan yang sesuai dengan kemampuan baca anak, sehingga layanan menjadi lebih personal dan edukatif,” sambungnya.
Penerapan perjenjangan buku yang konsisten juga dinilai akan mendukung program literasi daerah yang berorientasi pada kualitas, bukan sekadar kuantitas kunjungan. Anak-anak yang memperoleh pengalaman membaca yang sesuai kemampuannya, cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dalam mengakses bahan bacaan berikutnya.
Kaitannya dengan akreditasi, keberadaan pedoman perjenjangan buku menjadi indikator penting dalam menilai mutu layanan perpustakaan anak. Karenanya, tim asesor akan menilai bahwa perpustakaan yang memiliki sistem klasifikasi bacaan anak yang jelas menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan literasi berkelanjutan.
Menanggapi hal tersebut, Pengolah Data dan Informasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Nazzatul Farhanah menyambut positif masukan dari asesor dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk penguatan layanan.
“Ke depan, kami akan melaksanakan perjenjangan buku koleksi yang diintegrasikan dengan program literasi sekolah yang selama ini telah berjalan agar proses membaca menjadi lebih efektif dan menyenangkan,” ucap Nazzatul.
Melalui akreditasi ini, perpustakaan Kabupaten Sleman diharapkan mampu terus meningkatkan standar layanan, khususnya dalam penyediaan koleksi ramah anak yang terstruktur dan berkualitas. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun budaya baca dan memperkuat fondasi literasi masyarakat sejak usia dini. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)