TK Uswatun Hasanah Sleman Ajarkan Harmoni Budaya dan Alam Pada Anak Didik

  • Sep 17, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan

Sleman – Belasan siswa TK Uswatun Hasanah Sleman mengikuti kegiatan edukasi yang tidak biasa, yakni perpaduan antara pengenalan gamelan Jawa dan pemahaman mengenai satwa liar yang berlangsung di Sekretariat Komunitas Kekandhangan Banyuraden, Rabu (17/9/2025).

Didampingi Siti Nurjanah Yuliastuti. S.Pd.AUD selaku Wali Kelas B4 TK Uswatun Hasanah, anak-anak diajak untuk menyentuh, mencoba, mendengarkan, sekaligus memahami pesan moral di balik setiap aktivitas yang mereka jalani.

Edukasi gamelan diberikan oleh Damar Asmoro Sejati selaku guru karawitan dari Sanggar Widya Pramana Banyuraden. Kegiatan dimaksudkan untuk memperkenalkan alat musik tradisional kepada anak-anak usia dini, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebersamaan.

Ketika mereka memukul kendang atau menabuh bonang, ada rasa gembira yang muncul. Namun lebih dari itu, anak-anak belajar bahwa setiap bunyi akan indah jika dimainkan secara serentak dan selaras dengan orang lain. “Inilah gambaran sederhana tentang arti harmoni dalam kehidupan,” ujar Damar.

Lebih lanjut, Yuliastuti sebagai guru TK Uswatun Hasanah memandang kunjungan lapangan ini dipandang sebagai model pendidikan holistik yang memadukan seni budaya dengan kepedulian lingkungan. Menurutnya, dalam bermain gamelan, anak-anak belajar disiplin, motorik, dan kerja sama. Sementara itu, melalui pengenalan satwa liar, siswa didorong untuk berempati dan peduli pada makhluk hidup di sekitar.

“Dua hal ini jika dipadukan, akan membentuk pribadi yang utuh, seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan moral,” lanjutnya.

Yuliastuti menyebutkan metode belajar berbasis pengalaman semacam ini lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian teori di kelas. Siswa lebih mudah memahami karena langsung terlibat dalam proses. Misalnya, ketika menabuh saron, anak-anak belajar mengendalikan tenaga dan ritme.

Yang tak kalah penting, materi pengenalan satwa liar khususnya ular diberikan relawan Komunitas Kekandhangan, Febrianto Yudi Susilo yang berpengalaman dalam evakuasi hewan liar termasuk ular.

Pengenalan hewan ular kepada anak-anak dilakukan dengan cara sederhana dan menyenangkan. Ia mengajarkan perbedaan dasar antara ular berbisa dan tidak berbisa. Penjelasan ini disampaikan dengan bahasa sederhana dan disertai cerita agar mudah dipahami anak-anak.

Febrianto menekankan pentingnya sikap hati-hati saat bertemu ular. Termasuk melarang anak-anak memegang ular sembarangan, tidak mengganggunya, serta segera memberitahu orang dewasa apabila melihat ular yang masuk di permukiman. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga belajar cara hidup berdampingan dengan alam secara aman.

Edukasi gamelan dan satwa liar bagi siswa TK Uswatun Hasanah di Sleman ini menegaskan pentingnya keseimbangan dalam pendidikan. Di tengah gempuran teknologi digital dan gawai, anak-anak perlu dikenalkan kembali pada akar budaya serta realitas alam sekitar. Sehingga tidak tercerabut dari identitasnya sebagai bagian dari masyarakat Jawa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna gamping)