UKBAT Wonocatur Kembangkan Budidaya Lele Sistem Kocor di Sleman
- May 24, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Ekonomi
Sleman — Upaya modernisasi sektor perikanan darat terus digulirkan guna mendongkrak produktivitas pangan di tingkat daerah. Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur di bawah Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta yang gencar mengembangkan metode budidaya ikan lele (Clarias batrachus) menggunakan sistem kocor di kawasan Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Metode inovatif ini dinilai menjadi salah satu formula paling efektif untuk melipatgandakan hasil panen sekaligus menjaga stabilitas kualitas lingkungan ekosistem perairan kolam. Melalui pemanfaatan debit air yang mengalir secara kontinu, sistem ini menawarkan solusi atas kendala klasik budidaya konvensional yang kerap terkendala oleh penurunan kualitas air dan tingginya angka kematian komoditas.
Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Budidaya Air Tawar Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, Diduk K Hendra, menjelaskan bahwa sistem kocor mengandalkan sirkulasi udara dan air yang bergerak secara teratur di dalam kolam pemeliharaan. Mekanisme ini menjamin ketersediaan pasokan oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang melimpah dan konstan untuk menopang metabolisme ikan.
“Sistem kocor ini mampu menekan tingkat stres pada ikan lele secara drastis karena air di dalam kolam terus mengalami pembaruan secara alami. Dengan kandungan oksigen terlarut dalam air yang stabil, kondisi fisik ikan menjadi jauh lebih sehat, nafsu makan meningkat tajam, dan risiko serangan penyakit yang sering menghantui para peternak dapat ditekan secara signifikan,” ujar Diduk K Hendra di hadapan perwakilan pengurus pondok pesantren se-Kabupaten Sleman pada Minggu (24/5/2026).
Diduk menambahkan, keunggulan mekanis dari sistem aliran ini terletak pada efisiensi pembersihan kolam secara otomatis. Aliran air yang bergerak konstan mampu mendorong limbah organik sisa pakan serta amoniak dari kotoran ikan keluar dari ekosistem kolam tanpa perlu dikuras secara manual. Hal ini membuat proses sanitasi menjadi jauh lebih praktis dan ramah tenaga kerja jika dibandingkan dengan kolam tradisional bersistem air tenang.
Berdasarkan pemetaan wilayah, implementasi teknologi sistem kocor ini dinilai sangat kompatibel dengan karakteristik geografis kawasan lereng Gunung Merapi seperti Cangkringan yang dianugerahi sumber mata air melimpah. Pasokan air yang bersih dan debit yang stabil dari alam menjadi modal utama yang menjamin keberhasilan sistem sirkulasi terpadu tersebut.
“Tidak hanya meningkatkan kuantitas produksi, sistem kocor ini terbukti mampu mempercepat masa panen ikan lele. Pertumbuhan bobot ikan yang lebih optimal membuat durasi pemeliharaan menjadi lebih singkat, sehingga perputaran arus modal usaha dapat berlangsung lebih cepat dan tentunya jauh lebih menguntungkan bagi para pembudidaya,” kata Diduk menambahkan kalkulasi bisnisnya.
Dampak positif dari penerapan teknologi sederhana ini langsung terlihat pada standarisasi produk hilir. Selain angka mortalitas ikan yang menurun drastis di bawah ambang batas normal, ukuran fisik lele yang dipanen juga memiliki tingkat keseragaman yang tinggi. Karakteristik komoditas yang seragam seperti inilah yang sangat dicari oleh jaringan pasar modern dan industri pengolahan karena memiliki nilai tawar serta harga jual yang jauh lebih kompetitif.
Melalui program kemitraan strategis ini, pemerintah daerah menaruh harapan besar agar adopsi teknologi terapan ini dapat memicu lahirnya kantong-kantong usaha perikanan rakyat yang produktif dan mandiri. Edukasi yang menyasar kelompok santri dan generasi muda ini diproyeksikan mampu mencetak wirausahawan baru di sektor agribisnis, sekaligus menjawab tantangan lonjakan kebutuhan konsumsi ikan nasional yang terus merangkak naik. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)