Wayang Kulit Lakon Getah Banjaran Warnai Tradisi Saparan Bekakak di Sleman

  • Aug 08, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Seni Budaya

Sleman – Pemerintah Kalurahan Ambarketawang menghadirkan pagelaran wayang kulit spesial dalam rangkaian tradisi Saparan Bekakak di Pendhapa Ambarketawang, Jumat malam (8/8/2025). Pertunjukan yang mengangkat lakon Getah Banjaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan yang dalam.

Ki Bayu Aji Nugraha sebagai dalang membawakan kisah perjalanan hidup seorang ksatria melalui berbagai ujian dan rintangan. Lakon ini dipilih karena relevansinya dengan filosofi hidup masyarakat Jawa yang penuh liku namun sarat hikmah.

“Getah Banjaran menggambarkan bahwa setiap perjalanan hidup meninggalkan bekas yang membentuk karakter,” jelas Wahyu Sakti Aji, Ketua Panitia Upacara Adat Saparan Bekakak 2025.

Pagelaran diawali dengan prosesi simbolis penyerahan Gunungan oleh Lurah Ambarketawang Sumaryanto kepada sang dalang. Selama pertunjukan, Ki Bayu tak hanya menyajikan cerita tradisional, tetapi juga menyisipkan nasihat-nasihat praktis yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Lakon ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kematangan batin dan kemampuan mengendalikan diri.

“Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu mengedepankan musyawarah dan jalan damai dalam menyelesaikan masalah,” tambah Wahyu.

Pagelaran wayang kulit ini juga menjadi medium spiritual masyarakat untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan. Iringan gamelan dan tembang sinden menciptakan atmosfer magis yang menghubungkan dunia nyata dengan dimensi spiritual.

Di sisi lain, acara ini turut memberikan dampak ekonomi positif bagi warga setempat. Berbagai lapak kuliner dan cenderamata ramai dikunjungi penonton yang memadati area pertunjukan.

“Ini bukti bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat,” pungkas Wahyu.

Pagelaran wayang kulit dalam Saparan Bekakak menjadi bukti nyata bahwa tradisi Jawa tetap relevan di era modern. Melalui seni pedalangan, nilai-nilai luhur budaya dan spiritualitas terus diwariskan kepada generasi muda dengan cara yang menarik dan bermakna. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)