Wayang Kulit ‘Wahyu Katentreman’ Merajut Ketenangan untuk Kedamaian Nusupan
- Jul 31, 2024
- Aryo Tejo
- Kegiatan Wilayah, Seni Budaya
Sebagai sarana untuk menjaga dan memperkuat hubungan antara warga dusun serta sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah alam yang diberikan Allah SWT, maka warga Padukuhan Nusupan Kalurahan Trihanggo menyelenggarakan kegiatan merti dusun dengan mengangkat tema ‘Gumregah Nyawiji Angrabuk Rukun Ambangun Dusun’ yang dipusatkan di Gardu Ronda RT.04 Nusupan, Sabtu malam (31/8/2024).
Guna memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup, baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, maupun manusia dengan Sang Pencipta, pada puncak acara merti dusun digelar pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh dalang Ki Geter Pramuji Widodo dan Ki Gading Pawukir Seno Saputro secara bergantian, serta dimeriahkan bintang tamu Elisha Orcarus Allaso dan Sihono saat adegan limbukan.
Pagelaran wayang kulit dengan lakon ‘Wahyu Katentreman’ dihadiri oleh Panewu Gamping, Tamzis Sarwana bersama Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Wahyani dan Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Sandro Dwi Rahardian, serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman, Herman Budi Pramono yang disambut kehadirannya oleh Dukuh Nusupan, Sumarjono.
Menurut Sumarjono selaku Dukuh Nusupan, lakon ‘Wahyu Katentreman’ merupakan salah satu cerita dalam dunia pewayangan yang sarat dengan makna filosofis dan spiritual yang memiliki arti wahyu atau anugerah yang membawa ketenangan dan kedamaian.
“Kami memilih cerita ini agar warga Dusun Nusupan dan sekitarnya memahami bahwa kedamaian sejati dalam masyarakat hanya bisa tercapai jika pemimpin memiliki kebijaksanaan dan ketenangan batin,” tuturnya.
Dalam konteks pewayangan, wahyu merupakan simbol dari pengetahuan ilahi atau kearifan yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Lakon ini menggambarkan pencarian spiritual oleh para ksatria atau raja untuk mendapatkan wahyu demi menciptakan kedamaian di kerajaannya.
Cerita di awali oleh Ki Geter Pramuji Widodo yang menceritakan perjalanan seorang ksatria yang harus melalui berbagai ujian dan rintangan untuk memperoleh wahyu katentreman. Perjuangan ini menggambarkan betapa sulitnya mencapai ketenangan batin dan kedamaian sejati yang hanya bisa diraih melalui pengendalian diri, pengorbanan, dan keikhlasan.
Saat perjalanan mencari wahyu, sang ksatria dihadapkan pada berbagai godaan dan pertarungan melawan kekuatan jahat yang ingin menggagalkan usahanya. Pertarungan ini melambangkan konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang ada dalam setiap manusia. Hanya dengan menaklukkan hawa nafsu dan godaan duniawi maka manusia dapat mencapai ketenangan dan kedamaian sejati.
Hal tersebut mengajarkan bahwa kedamaian dan ketenangan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari dan diperjuangkan. Di dunia yang penuh dengan konflik dan ketidakpastian, pesan ini menjadi sangat penting sebagai pengingat akan nilai-nilai spiritual yang sering kali terabaikan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)