Widyabasa Ahli Madya BBY Bedah Buku Nyecep Banyu Panguripan Karya 42 Sastrawan Pasbuja Sleman
- Nov 22, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman – Memasuki usia ke 7 tahun, Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman melakukan peluncuran buku antologi “Nyecep Banyu Panguripan” yang berlangsung di Pendhapa Pagelaran Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Sabtu (22/11/2025).
Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, S.Sos, MM, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Sleman, Joko Dwi Haryadi, Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono, serta Widyabasa Ahli Madya Balai Bahasa Yogyakarta (BBY), Dr. Ratun Untoro, S.S., M.Hum sebagai pembedah buku.
ketika para pegiat sastra Jawa berkumpul merayakan dua momentum penting sekaligus yakni peluncuran dan bedah buku antologi cerkak Nyecep Banyu Panguripan serta peringatan hari jadi ke-7 Pasbuja Kawi Merapi Kabupaten Sleman menciptakan suasana yang pas untuk perayaan literasi dan kebudayaan lokal.
Buku Nyecep Banyu Panguripan hadir sebagai buah karya kolektif 42 penulis muda dan senior yang selama ini aktif dalam kegiatan kepenulisan. Antologi cerkak ini memuat beragam kisah yang menyoroti kehidupan masyarakat Jawa dalam balutan bahasa, filosofi, dan nilai-nilai lokal. Peluncuran buku ini menjadi penanda bahwa kreativitas sastra Jawa tetap tumbuh subur di tengah perkembangan zaman.
Acara peluncuran dibuka dengan suguhan tembang dolanan anak yang memperkuat atmosfer tradisi. Para tamu undangan, mulai dari seniman, akademisi, hingga komunitas literasi tampak antusias. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan peluncuran buku, tetapi juga merayakan eksistensi sebuah paguyuban yang selama bertahun-tahun konsisten mempromosikan budaya Jawa melalui kegiatan literasi dan seni.
Dalam sesi bedah buku, Dr. Ratun Untoro mengupas kedalaman cerita-cerita yang tertuang dalam antologi Nyecep Banyu Panguripan. Mereka menyoroti keberhasilan para penulis dalam memadukan realitas sosial, imajinasi, dan nilai-nilai adiluhung dalam bentuk cerkak yang komunikatif. Diskusi berlangsung hangat, dengan banyak peserta mengajukan pertanyaan tentang proses kreatif, tema-tema menantang, hingga masa depan cerkak sebagai genre yang semakin diminati generasi muda.
Usai membaca judul-judul melalui daftar isi, dari 42 judul, hampir semua menggunakan kata “banyu” atau hal-hal yang berkaitan langsung dengan air, seperti udan (hujan), sendhang (sendang), patirtan (perairan), warih (air), dan lain-lain. Hanya ada tujuh judul yang tidak secara langsung berkaitan dengan air, yaitu “Ulur-ulur”, “Landhak ing Jeron Beteng”, “Tangis Kanggo Anakku”, “Tritisan”, “Plakat Dadi Maksiyat”, “Beja”, dan “Sekar Langit”. Sementara itu, 35 judul lainnya langsung menyebut air atau hal yang berkaitan langsung dengan air. Hal itu menunjukkan bahwa tema air masih secara harfiah diterjemahkan sebagai air secara denotatif atau makna lugas.
Adapun menurut hasil pembacaan Dr. Ratun, penulis hendak menyampaikan pesan lain di luar air, seperti kesetiaan, kejujuran, kebajikan, dan norma-norma yang tidak ada kaitannya dengan air. “Air benar-benar dimunculkan secara harfiah atau diekspresikan secara langsung,” tandasnya.
Selain itu, penulis hendak menyembunyikan, mengalihkan, atau mengekspresikan air secara tidak langsung (hermeneutic) atau setidaknya menunda kehadiran air secara harfiah. Judul “Ulur-Ulur” (hlm. 32), misalnya. Sejenak, pembaca tidak akan langsung berpikir tentang air. Namun, saat membaca ceritanya, pembaca baru menemukan bahwa Ulur-Ulur adalah upacara tradisi yang berkaitan dengan telaga.
Lebih lanjut, judul “Landhak ing Jeron Beteng” (hlm. 73) juga tidak serta merta menampilkan air di awal cerita meskipun akhirnya pembaca akan menemukan air sebagai sumber konflik di paragraph pertama. Begitu pula dengan “Tritisan” (hlm.172), “Plakat Dadi Maksiat”(hlm.184), dan “Beja” (hlm.197). serta “Sekar Langit” (hlm.232).
“Karya sastra yang baik adalah yang mampu mengajak orang untuk berpikir. Karya sastra yang baik adalah yang mempunyai wajah yang berbeda-beda dan makna yang berbeda-beda,” ungkap Dr. Ratun.
Dalam antologi ini, air tidak hanya hadir sebagai tema, namun juga sebagai medium eksplorasi sastra, mencerminkan sifat kreatif yang visibilitasnya bergantung pada cara pembaca memaknainya. Sehingga, air menjadi simbol multifungsi yang tidak selalu harus ditampilkan secara eksplisit tetapi bisa mencerminkan berbagai sifat manusia dan kehidupan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)