Asyiqatul Musthofa Ar-Risalah Mlangi Istiqamah Lestarikan Hadroh dan Syiarkan Shalawat
- Jun 30, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman — Eksistensi Grup Hadroh Asyiqatul Musthofa Pondok Pesantren Putri Ar-Risalah Mlangi terus menunjukkan kiprahnya sebagai media syiar Islam sekaligus wadah pembinaan seni bagi kalangan santri. Beranggotakan 12 santri putri, kelompok hadroh yang berdiri sejak 2018 tersebut berhasil memadukan pembinaan karakter, pelestarian tradisi shalawat, dan prestasi di berbagai ajang perlombaan.
Hal tersebut mengemuka di sela-sela acara bedah buku “Kiai yang Menanam Cahaya” dalam rangkaian Halaqah dan Haul ke-13 almagfurlah KH Abdullah Muhyiddin di Pondok Pesantren Putri Ar-Risalah Mlangi, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (30/6/2026). Pada momentum tersebut, Asyiqatul Musthofa turut menampilkan lantunan shalawat yang mengiringi jalannya kegiatan sehingga menghadirkan suasana religius sekaligus khidmat.
Ketua Asyiqatul Musthofa, Ustadzah Nadiya Soraya, mengatakan grup hadroh tersebut dibentuk sebagai sarana pengembangan bakat santri sekaligus media dakwah melalui seni Islami. “Kami ingin para santri tidak hanya mampu melantunkan shalawat dengan baik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hadroh menjadi bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Nadiya, pembinaan dilakukan secara rutin melalui latihan yang menitikberatkan pada kualitas vokal, harmonisasi tabuhan rebana, kekompakan antarpersonel, serta penghayatan terhadap syair-syair shalawat. Proses tersebut menjadi bekal bagi para santri agar mampu tampil maksimal dalam setiap kegiatan keagamaan maupun perlombaan.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Asyiqatul Musthofa berhasil meraih Juara I Lomba Hadroh Tingkat Kapanewon Gamping. Prestasi tersebut kemudian disusul dengan keberhasilan meraih Juara I Lomba Hadroh Ramadhan Festival yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sleman. Dua penghargaan itu menjadi bukti bahwa pembinaan seni di lingkungan pesantren mampu melahirkan kelompok hadroh yang kompetitif dan berkualitas.
Selain aktif mengikuti kompetisi, Asyiqatul Musthofa juga rutin mengisi berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, haflah, peringatan hari besar Islam, hingga agenda organisasi kemasyarakatan Islam. Kehadiran mereka menjadi bagian dari syiar Islam yang dikemas melalui seni yang santun, menyejukkan, dan mudah diterima oleh masyarakat lintas generasi.
“Hadroh merupakan warisan ulama yang harus terus dijaga. Melalui shalawat, para santri belajar mencintai Rasulullah SAW sekaligus menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kami berharap para anggota terus beristiqamah berkarya dan menjadikan hadroh sebagai bagian dari dakwah yang membawa manfaat bagi masyarakat,” tandas Nadiya.
Keberadaan Asyiqatul Musthofa juga mencerminkan komitmen Pondok Pesantren Putri Ar-Risalah Mlangi dalam mengembangkan potensi santri secara menyeluruh. Selain memperdalam ilmu agama, para santri diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan berdakwah melalui pendekatan seni budaya yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan dan dukungan seluruh keluarga besar pesantren, Asyiqatul Musthofa diharapkan terus mempertahankan prestasi sekaligus memperluas kiprahnya sebagai duta syiar Islam. Eksistensinya menjadi bukti bahwa pesantren mampu melahirkan generasi muslimah yang unggul dalam ilmu, berkarakter, mencintai tradisi shalawat, serta mampu mengharumkan nama lembaga melalui karya dan prestasi.
Sementara itu, KH Syukron Amin selaku Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Risalah Mlangi sekaligus Dzurriyah KH Abdullah Muhyiddin, menegaskan bahwa keberadaan grup hadroh santri Asyiqatul Musthofa memiliki makna strategis dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus membentuk karakter generasi muda agar tetap dekat dengan shalawat dan akhlak Nabi.
“Pelestarian hadroh sesungguhnya bukan sekadar menjaga seni rebana, tetapi menjaga ruh kecintaan kepada Rasulullah SAW yang diwariskan para ulama. Almagfurlah KH Abdullah Muhyiddin selalu menanamkan bahwa dakwah harus disampaikan dengan kelembutan, keindahan, dan keteladanan. Hadroh menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan nilai-nilai itu di tengah masyarakat,” jelasnya.
KH Syukron Amin berharap seni hadroh terus dikembangkan di lingkungan pesantren sebagai media dakwah yang santun, menyejukkan, dan mampu menjangkau generasi muda tanpa kehilangan akar tradisi keislaman yang diwariskan para kiai.
“Beliau, KH Abdullah Muhyiddin, mengajarkan ilmu sekaligus menanamkan adab, cinta kepada Nabi, dan penghormatan terhadap tradisi ulama. Karena itu, ketika para santri melantunkan shalawat melalui hadroh, sejatinya mereka sedang meneruskan cahaya perjuangannya,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)