Dr. Ngatawi Al-Zastrouw: Implementasi Sila Kelima Pancasila Harus Menjadi Laku Hidup, Bukan Sekadar Pedoman
- Jul 10, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Nasionalisme
Sleman — Nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, perlu diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari dan tidak berhenti sebagai konsep normatif atau sekadar pedoman hidup. Gagasan tersebut mengemuka dalam Bedah Buku dan Diskusi bertajuk Menggali Api Pancasila, Catatan Dari Anjangsana Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Pendhapa Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Jumat (10/7/2026).
Budayawan sekaligus Penulis Buku Menggali Api Pancasila, Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, menegaskan bahwa kekuatan Pancasila sesungguhnya terletak pada implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang menghadirkan kemaslahatan bersama, terutama dalam membangun keadilan sosial yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Sila kelima tidak cukup dipahami sebagai slogan atau semboyan kebangsaan. Keadilan sosial harus menjadi laku hidup, menjadi budaya yang terus dipraktikkan dalam hubungan antarmanusia, dalam kehidupan ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik,” ujar Dr. Zastrouw di hadapan para santri yang mengikuti diskusi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keadilan sosial bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, melainkan juga tanggung jawab setiap warga negara. Implementasi sila kelima dimulai dari tindakan sederhana, seperti menghargai hak orang lain, menumbuhkan kepedulian terhadap kelompok yang lemah, menghindari diskriminasi, serta membangun semangat gotong royong sebagai fondasi kehidupan bersama.
Menurut Dr. Zastrouw, pesantren memiliki posisi strategis dalam membumikan nilai-nilai Pancasila karena sejak awal telah mengajarkan prinsip keadilan, persaudaraan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. “Nilai-nilai tersebut sejalan dengan substansi Pancasila sehingga santri memiliki modal sosial dan moral untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat,” lanjutnya.
Dirinya pun mengingatkan bahwa tantangan kehidupan kebangsaan pada saat ini semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat sering kali memunculkan polarisasi, ketimpangan, bahkan penyebaran kebencian. Karena itu, generasi muda perlu memiliki fondasi ideologi yang kuat agar mampu menjaga persatuan sekaligus memperjuangkan keadilan sosial melalui cara-cara yang bermartabat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Zastrouw mengajak para santri peserta diskusi untuk menjadikan Pancasila sebagai etika sosial yang hidup, bukan sekadar materi pelajaran atau hafalan. Menurutnya, ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar menjadi karakter individu, maka akan lahir masyarakat yang saling menghormati, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan sesama.
Bedah buku yang difasilitasi BPIP tersebut berlangsung dalam suasana dialogis. Para santri aktif mengajukan pertanyaan mengenai relevansi Pancasila dalam kehidupan generasi muda, hubungan antara nilai-nilai keagamaan dengan kebangsaan, hingga strategi mengimplementasikan sila kelima di lingkungan pesantren maupun masyarakat. Diskusi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memahami Pancasila secara lebih kontekstual.
Melalui kegiatan ini, diharapkan ideologi Pancasila tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi mampu melahirkan generasi muda yang menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, cita-cita menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diwujudkan melalui tindakan kolektif yang dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk pesantren sebagai pusat pembentukan karakter dan peradaban bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)