Rawat Kemajemukan Bangsa, BPIP Ajak Generasi Muda NU Jadi Wajah Pancasila yang Hidup

  • Jul 10, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Nasionalisme

Sleman — Generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) dinilai memegang peran krusial dalam memastikan nilai-nilai Pancasila tetap tegak sebagai praktik sosial di tengah menguatnya tantangan polarisasi, intoleransi, dan disrupsi informasi digital. Peran nyata tersebut diwujudkan lewat konsistensi merawat keberagaman, membela kelompok minoritas, serta menghadirkan keadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pandangan strategis ini dikemukakan oleh Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Irene Camelyn Sinaga. Ia hadir sebagai narasumber dalam acara bedah buku “Menggali Api Pancasila” karya Ngatawi Al-Zastrouw yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Dunia Santri di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Jumat (10/7/2026) sore.

Dalam orasinya, Irene menegaskan bahwa dasar negara tidak akan memiliki daya tawar jika hanya berhenti sebagai teks hafalan atau simbol seremoni kenegaraan belaka. Karakter asli Pancasila baru akan terlihat saat diimplementasikan ke dalam tindakan yang menghormati martabat manusia dan melindungi kelompok rentan tanpa diskriminasi.

“Keberpihakan terhadap kelompok minoritas bukanlah bentuk perlakuan istimewa, melainkan konsekuensi dari amanat Pancasila yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sebagai fondasi kehidupan berbangsa,” ujar Irene Camelyn Sinaga di hadapan ratusan santri yang memadati lokasi acara.

Irene menguraikan bahwa NU memiliki modal historis yang kokoh untuk mengawal misi kebangsaan ini. Sejak awal berdiri, organisasi ini konsisten mewarisi tradisi Islam Nusantara yang menyeimbangkan semangat keagamaan dengan penghormatan penuh terhadap kemajemukan. Warisan nilai inilah yang wajib dijaga oleh para santri masa kini agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ancaman terhadap persatuan nasional saat ini tidak lagi didominasi oleh benturan fisik di lapangan, melainkan lewat perang opini dan penyebaran ujaran kebencian yang masif di ruang siber. Oleh karena itu, anak muda NU dituntut cakap menjadi produsen konten yang menyejukkan sekaligus motor penggerak dialog lintas komunitas.

“Keilmuan yang dimiliki santri hendaknya diterjemahkan menjadi kerja-kerja nyata yang menghadirkan kemaslahatan, memperjuangkan keadilan, dan memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman bangsa Indonesia,” kata Irene menambahkan.

Agenda bedah buku yang diinisiasi oleh BPIP ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai titik temu yang harmonis antara nilai keislaman dan keindonesiaan. Melalui forum Festival Dunia Santri ini, kalangan pesantren diharapkan terus mencetak kader tangguh yang mampu menghidupkan Pancasila dalam denyut nadi kehidupan bermasyarakat secara nyata dan berkelanjutan.

“Di tangan generasi muda Nahdlatul Ulama, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap kelompok minoritas diharapkan terus tumbuh sebagai denyut kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Irene memungkasi paparannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)