Gus Muwafiq: Jurnalistik Jadi Sarana Duplikasi Pikiran dan Transformasi Pengetahuan
- Jul 09, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Pemberdayaan
Sleman — Pengasuh Pondok Pesantren Minggir dan budayawan, KH Ahmad Muwafiq menegaskan bahwa pelatihan jurnalistik memiliki peran strategis dalam menduplikasikan pikiran manusia agar dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan yang terus hidup dan dipelajari lintas generasi. Hal itu disampaikannya saat membuka Workshop Jurnalistik dan Penulisan Kreatif dalam rangkaian Festival Dunia Santri 2026 di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026).
Menurut Gus Muwafiq, kemampuan menulis merupakan salah satu pencapaian peradaban yang memungkinkan gagasan seseorang tidak berhenti pada ruang dan waktu tertentu. Melalui karya jurnalistik maupun karya sastra, seseorang dapat menghadirkan kembali pemikirannya sehingga mampu dipahami oleh masyarakat yang tidak pernah bertemu langsung dengan penulisnya.
“Jurnalistik pada hakikatnya adalah upaya menduplikasikan pikiran. Ketika sebuah gagasan berhasil dituliskan dengan baik, maka pikiran itu dapat berpindah kepada orang lain, bahkan kepada generasi yang hidup jauh setelah penulisnya tiada,” katanya.
Gus Muwafiq menjelaskan, tulisan merupakan alat transformasi pengetahuan yang paling efektif karena mampu melampaui batas geografis, budaya, maupun zaman. Berbeda dengan komunikasi lisan yang terbatas pada ruang tertentu, tulisan memungkinkan ilmu pengetahuan terus berkembang melalui proses membaca, mengkaji, hingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru.
Ia mencontohkan berbagai karya besar peradaban, mulai dari kitab-kitab klasik hingga ensiklopedia modern, yang lahir dari tradisi menulis. Menurutnya, karya-karya tersebut menjadi sumber rujukan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena mampu merekam pengalaman, pemikiran, serta hasil penelitian manusia secara sistematis.
“Kalau pengetahuan tidak ditulis, ia akan hilang bersama pemiliknya. Tetapi ketika dituliskan, ia berubah menjadi warisan intelektual yang bisa dipelajari, dikritisi, dikembangkan, bahkan melahirkan pengetahuan baru. Itulah mengapa lahir berbagai karya besar, termasuk ensiklopedia yang menjadi rujukan dunia pendidikan,” ujar Gus Muwafiq.
Selain itu, menurutnya, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, memiliki tanggung jawab besar untuk membangun tradisi literasi yang kuat. Santri tidak cukup hanya menjadi pembaca, tetapi juga harus menjadi penulis yang mampu mendokumentasikan gagasan, pengalaman, serta khazanah keilmuan Islam dalam bentuk karya.
Untuk itu, workshop ini menjadi bagian dari Festival Dunia Santri 2026, yang diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya menulis di lingkungan pesantren. Dengan semakin banyaknya santri yang menghasilkan karya jurnalistik maupun karya sastra, pesantren diyakini akan semakin berperan sebagai pusat produksi pengetahuan yang melahirkan gagasan-gagasan baru bagi dunia pendidikan, masyarakat, dan kemajuan peradaban Indonesia.
“Menulis itu penting, karena untuk menjaga pengetahuan agar tetap ada. Saya senang kalau masih ada pelatihan jurnalistik yang dianggap oleh beberapa orang sebagai produk analog yang paling tertinggal. Untuk itu, sebagai pengasuh Pondok Pesantren Minggir, saya berharap semoga pelatihan jurnalistik ini menjadi perhatian yang bermanfaat dan barokah,” pungkas Gus Muwafiq. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)