Santri Diajak Tumbuhkan Tradisi Literasi Lewat Penulisan, Pembacaan, dan Kurasi Puisi
- Jul 09, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Pendidikan
Sleman — Menulis puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah. Di tangan para santri, puisi dapat menjadi ruang perenungan, media dakwah, sekaligus cara menyampaikan kegelisahan dan harapan terhadap kehidupan. Karena itu, budaya menulis, membaca, hingga mengkurasi puisi perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari penguatan tradisi literasi di lingkungan pesantren.
Pesan tersebut disampaikan sastrawan dan penyair, Beni Satria saat menjadi narasumber workshop penulisan puisi dalam rangkaian Festival Dunia Santri 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026). Menurutnya, kehidupan pesantren menyimpan banyak pengalaman yang dapat diolah menjadi karya sastra yang memiliki nilai estetika sekaligus makna sosial.
“Puisi lahir dari kepekaan terhadap kehidupan. Santri setiap hari berinteraksi dengan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan kemanusiaan. Semua itu merupakan sumber inspirasi yang sangat kaya untuk melahirkan karya yang jujur dan bermakna,” kata Beni.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan menulis puisi tidak muncul secara instan. Menurutnya, proses kreatif harus dibangun melalui kebiasaan membaca berbagai karya sastra, memperluas referensi, serta berlatih menulis secara konsisten. Semakin banyak seorang penulis membaca, semakin luas pula perspektif yang dimiliki dalam memilih tema, membangun imaji, hingga menemukan gaya kepenulisan yang khas.
Bagi Beni, puisi juga tidak berhenti ketika sebuah karya selesai ditulis. Tahap berikutnya adalah membacakannya di hadapan publik. Pembacaan puisi menjadi proses penting untuk menghidupkan makna melalui penguasaan vokal, intonasi, tempo, artikulasi, gestur, dan penghayatan sehingga emosi yang dibangun penyair dapat sampai kepada pendengar.
“Membaca puisi bukan sekadar membacakan teks. Pembaca harus mampu menghadirkan ruh puisi itu sendiri sehingga setiap kata memiliki kekuatan dan dapat menyentuh perasaan audiens,” tandasnya bersemangat.
Selain penulisan dan pembacaan, Beni juga memperkenalkan pentingnya kurasi puisi. Menurut dia, kurasi bukan dimaksudkan untuk mencari siapa yang paling baik, melainkan sebagai proses membaca karya secara kritis, memberikan apresiasi, sekaligus menyampaikan masukan yang membangun agar kualitas karya sastra terus berkembang.
Ia menilai budaya kurasi akan membentuk ekosistem sastra yang sehat di lingkungan pesantren. Penulis tidak hanya termotivasi menghasilkan karya, namun juga terbiasa menerima kritik, melakukan revisi, dan meningkatkan kualitas kepenulisan. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun literasi yang berkelanjutan.
Workshop berlangsung interaktif dengan memadukan penyampaian materi, praktik menulis puisi, pembacaan puisi oleh peserta, hingga sesi kurasi karya secara langsung. Antusiasme para santri terlihat ketika mereka saling bertukar gagasan, mendiskusikan pilihan diksi, serta menerima masukan atas karya yang telah ditulis.
Melalui kegiatan ini, Festival Dunia Santri 2026 menghadirkan ruang belajar menulis puisi, sekaligus memperkuat budaya literasi kreatif di kalangan santri. Tradisi tersebut diharapkan melahirkan generasi yang mampu mengolah pengalaman spiritual dan sosial menjadi karya sastra yang bernilai, sekaligus menjadikan puisi sebagai medium untuk menyebarkan pesan kemanusiaan, kebijaksanaan, dan perdamaian kepada masyarakat luas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)