Kajian Seroja Banyuraden Ungkap Rahasia Kesehatan di Balik Ibadah Puasa

  • Feb 25, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman — Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang digelar di Pendhapa Kekandhangan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (25/2/2026), menghadirkan pesan kuat tentang peran bulan suci Ramadan dalam menyembuhkan hati dan tubuh manusia. Kegiatan ini diikuti puluhan jama’ah dari berbagai kalangan yang antusias menyimak pemaparan materi kesehatan berbasis spiritual.

Dalam kajian tersebut, dr. Bambang Edi Susyanto selaku penceramah menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum ibadah ritual, melainkan menjadi sarana pemulihan kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, puasa memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan fisik dan psikologis manusia.

“Secara medis, puasa membantu proses detoksifikasi alami tubuh. Sistem pencernaan yang beristirahat selama beberapa jam memberikan kesempatan bagi organ tubuh untuk melakukan regenerasi sel dan memperbaiki fungsi metabolisme,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Bambang menyebut bahwa manfaat puasa juga berpengaruh pada kesehatan jantung, kadar gula darah, hingga pengendalian berat badan. Dengan pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka, tubuh dapat kembali pada ritme biologis yang lebih stabil.

Dari sisi rohani, Ramadan menjadi ruang refleksi diri yang mendalam. Ia menekankan bahwa ibadah puasa melatih kesabaran, mengendalikan emosi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, dan amarah.

“Ketika hati bersih, maka tubuh pun ikut merespons secara positif. Banyak penyakit fisik yang sebenarnya berakar dari kondisi psikis yang tidak sehat,” ungkapnya di hadapan peserta kajian.

Selain itu, dr. Bambang juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah dan pola hidup sehat selama bulan Ramadan. Asupan nutrisi yang cukup, tidur yang teratur, serta tetap beraktivitas secara proporsional menjadi kunci agar manfaat puasa dapat dirasakan secara optimal.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” tutur dr. Bambang mengutip Surat Ar-Ra’d ayat 28 dalam kitab suci Al-Qur’an.

Ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang hubungan antara keimanan, dzikir, dan ketenangan batin manusia. Secara makna, menegaskan bahwa ketenangan hati (thuma’ninah) bukan berasal dari faktor eksternal seperti harta, jabatan, atau kondisi duniawi, melainkan dari kedekatan spiritual dengan Allah SWT. 

“Orang yang beriman akan merasakan ketenangan ketika hatinya dipenuhi dengan dzikir yakni mengingat Allah dalam berbagai bentuk, seperti doa, membaca Al-Qur’an, maupun kesadaran batin,” sambungnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, implementasi ayat ini dapat berupa membiasakan dzikir, menjaga kualitas shalat, serta menghadirkan kesadaran akan Allah dalam setiap aktivitas. Dengan demikian, ketenangan tidak lagi bergantung pada situasi, tetapi menjadi kondisi batin yang stabil.

Dengan terselenggaranya kajian ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa bulan Ramadan adalah momentum penyembuhan holistik. Tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga memperbaiki kualitas kesehatan tubuh dan ketenangan jiwa secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)