Ketua Dewan Kebudayaan Sleman: Pentingnya Aksara Jawa Dalam Ekosistem Digital

  • Jun 23, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Budaya

Sleman — Keberadaan aksara Jawa di era transformasi digital dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Jawa di tengah arus globalisasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kebudayaan Sleman, Ki Abeje Janoko saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026 yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Aula Wacana Loka Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (23/6/2026).

Dalam pemaparannya, Ki Abeje Janoko menegaskan bahwa aksara Jawa tidak hanya dipandang sebagai peninggalan budaya masa lalu, melainkan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Menurutnya, pemanfaatan aksara Jawa dalam berbagai platform digital menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan keberadaannya tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

“Di era digital yang terus berkembang pesat, aksara jawa tidak boleh tertinggal. Mendorong integrasi aksara ke dalam ekosistem digital merupakan strategi kunci agar warisan ini tetap hidup dan digunakan oleh generasi masa kini,” terangnya.

Ia pun menjelaskan pentingnya standarisasi unicode artinya aksara Jawa telah tercatat dalam standar unicode internasional. Pemanfaatan ini perlu didorong agar aksara dapat diketik, dibagikan, dan diakses secara global di berbagai perangkat digital. Selain itu, perlu adanya relevansi platform digital untuk mendorong penggunaan aksara Jawa di media sosial, website resmi pemerintah, dan platform komunikasi modern sebagai wujud nyata kehadiran aksara dalam kehidupan digital masyarakat.

“Ketika aksara Jawa hadir dalam ruang digital, baik melalui aplikasi, media sosial, situs web, maupun berbagai platform teknologi lainnya, maka aksara tersebut memiliki peluang lebih besar untuk dikenal, dipelajari, dan digunakan oleh generasi muda,” ujar Ki Abeje.

Menurutnya, digitalisasi aksara Jawa merupakan bentuk inovasi kebudayaan yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisional dengan perkembangan zaman. Kehadiran font, Unicode, perangkat lunak pembelajaran, hingga konten kreatif berbasis aksara Jawa menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat berkembang seiring kemajuan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem digital yang ramah terhadap aksara Jawa. Kreativitas anak muda dalam menciptakan konten edukatif, desain grafis, karya multimedia, maupun aplikasi berbasis budaya dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan aksara Jawa kepada khalayak yang lebih luas.

“Pelestarian aksara Jawa merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, pelaku teknologi, serta masyarakat perlu membangun kolaborasi yang kuat agar penggunaan aksara Jawa semakin berkembang dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di ruang digital,” tandas Ki Abeje di hadapan 30 peserta pawiyatan.

Melalui gladhi ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejarah, filosofi, tata tulis, serta peluang pengembangan aksara Jawa di era digital. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman dalam meningkatkan literasi budaya sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya daerah.

Ki Abeje Janoko berharap aksara Jawa tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Dengan dukungan teknologi dan partisipasi generasi muda, aksara Jawa diyakini mampu tetap hidup, berkembang, serta menjadi identitas budaya yang membanggakan dalam ekosistem digital masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)