Memahami Sistem Font Jadi Kunci Pemanfaatan Aksara Jawa di Era Digital
- Jun 24, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Pemahaman mengenai sistem font menjadi salah satu aspek penting dalam penggunaan aksara Jawa di era digital. Hal tersebut disampaikan Srinarendra Krisnawan di hadapan 30 peserta Pawiyatan Aksara Jawa Tahun 2026 yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Aula Wacana Loka, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (24/6/2026).
Dalam pemaparannya, Srinarendra menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah membuka ruang yang semakin luas bagi pemanfaatan aksara Jawa melalui berbagai perangkat digital, baik laptop maupun telepon pintar. Namun, penggunaan aksara Jawa secara digital tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan sistem font yang sesuai.
Menurutnya, font memiliki peran penting karena menjadi media yang memungkinkan karakter aksara Jawa dapat ditampilkan dengan benar pada layar perangkat. Tanpa font yang mendukung standar penulisan aksara Jawa, teks yang diketik berpotensi tidak terbaca dengan baik atau bahkan mengalami kesalahan tampilan.
“Masyarakat perlu memahami perbedaan antara bentuk visual aksara dan sistem digital yang bekerja di baliknya. Dalam dunia komputer, aksara Jawa tidak hanya dipandang sebagai gambar huruf, tetapi sebagai kumpulan karakter yang telah memiliki kode dan aturan tersendiri dalam sistem komputerisasi,” bebernya.
Ada banyak sistem font, namun setidaknya ada dua font yang umum dikenal di dunia digital yaitu sistem font ANSI atau ASCII, dan sistem font Unicode atau Universal Code. Menurut Srinarendra, font ANSI (American National Standards Institute) basicnya adalah abjad latin dan hanya menyediakan 127 – 255 slot character. Jika ada font aksara Jawa yang versi ANSI, maka sebenarnya adalah font yang menumpang pada slot abjad latin.
“Akibatnya, jika file dibaca pada komputer lain yang belum terinstal aksara Jawa atau diunggah ke internet, maka font akan terbaca kembali ke abjad latinnya,” jelas Srinarendra.
Sedangkan, font Unicode yang memiliki ribuan slot maka dapat mewadahi berbagai aksara dunia dan menempatkannya pada range slot sendiri-sendiri. Font aksara Jawa sudah masuk pada sistem Unicode di range A980 – A9DF dan sudah didukung oleh Microsoft Windows versi 8,1 ke atas. Akan lebih stabil jika memakai versi 10, namun perlu disetting bahasa, font dan keyboardnya.
“Keunggulan font Unicode yaitu file tulisan aksara Jawa versi Unicode pada komputer atau handphone, jika kita unggah ke internet akan tetap tampil sebagai aksara Jawa,” kata Srinarendra.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa berbagai perangkat modern saat ini telah mendukung penggunaan aksara Jawa melalui standar Unicode. Meski demikian, pengguna tetap perlu memastikan bahwa perangkat yang digunakan telah dilengkapi font yang kompatibel agar seluruh pasangan, sandhangan, maupun tanda baca aksara Jawa dapat tampil secara sempurna.
Yang perlu diingat, masih terdapat sejumlah kendala yang kerap ditemui pengguna, seperti karakter yang tidak muncul, susunan aksara yang berubah, atau tampilan teks yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan. Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat ketidaksesuaian font atau aplikasi yang digunakan. Karena itu, peserta pawiyatan perlu mengenal berbagai jenis font aksara Jawa yang tersedia serta memahami cara memasang dan mengaktifkannya pada perangkat laptop maupun telepon pintar. Pengetahuan ini dinilai penting agar masyarakat mampu memanfaatkan aksara Jawa secara lebih luas dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui pawiyatan aksara Jawa, para peserta diharapkan mampu membaca dan menulis aksara Jawa secara konvensional, sekaligus memahami penerapannya dalam ekosistem digital. Agar, aksara Jawa dapat terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai budaya yang dikandungnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)