Unen-Unen Jawa Jadi Sarana Penanaman Karakter Lewat Konten Kreatif Beraksara Jawa
- Jun 24, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Unen-unen Jawa memiliki peran penting sebagai sarana komunikatif untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada masyarakat, khususnya generasi muda, melalui berbagai bentuk konten kreatif beraksara Jawa. Hal tersebut disampaikan Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Seyegan, Sumaryono, dalam Pawiyatan Aksara Jawa yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Ruang Wacana Loka Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (24/6/2026).
Di hadapan 30 peserta pawiyatan, Sumaryono menjelaskan bahwa unen-unen Jawa merupakan bagian dari kekayaan kearifan lokal yang memuat pesan moral, etika, serta pandangan hidup masyarakat Jawa. Melalui ungkapan-ungkapan tersebut, masyarakat dapat belajar mengenai sikap hidup yang bijaksana, santun, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, keberadaan unen-unen Jawa yang meliputi paribasan, bebasan, dan saloka perlu dipahami sebagai warisan budaya lisan, sekaligus harus dikembangkan menjadi media komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengemasnya dalam bentuk konten kreatif menggunakan aksara Jawa di berbagai platform digital,” tandas Sumaryono sambil membagikan stiker hasil karyanya.
Ia menyontohkan sejumlah unen-unen seperti alon-alon waton kelakon, ajining diri saka lathi, maupun becik ketitik ala ketara yang mengandung nilai ketekunan, kehati-hatian, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut dianggap masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Sumaryono menuturkan bahwa penggunaan aksara Jawa dalam penyajian unen-unen dapat memberikan daya tarik tersendiri sekaligus memperkuat fungsi edukatifnya. Selain mengenalkan pesan moral, masyarakat juga diajak untuk lebih akrab dengan aksara Jawa sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan.
Lebih lanjut, ia mendorong peserta pawiyatan untuk mulai memproduksi berbagai konten kreatif berbasis unen-unen Jawa, seperti poster digital, infografis, video pendek, desain media sosial, hingga karya visual lainnya yang dapat diunggah di instagram, facebook, maupun tiktok. Dengan cara tersebut, aksara Jawa dapat hadir dalam ruang-ruang komunikasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
“Keberhasilan pelestarian aksara Jawa tidak hanya bergantung pada kemampuan membaca dan menulis, namun pada kemampuan menghadirkan aksara tersebut dalam konteks yang fungsional dan komunikatif. Karena itu, konten kreatif menjadi salah satu strategi penting untuk memperluas jangkauan pemanfaatan aksara Jawa,” sambung Sumaryono.
Selain itu, transformasi unen-unen Jawa ke dalam media digital juga dapat menjadi sarana pembelajaran karakter yang lebih efektif. Pesan-pesan moral yang disampaikan secara visual dan menarik cenderung lebih mudah diterima serta diingat oleh generasi muda dibandingkan penyampaian yang bersifat konvensional.
Lewat forum ini, Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman berharap para peserta pawiyatan mampu memahami kaidah penulisan aksara Jawa, dan bisa mengembangkannya menjadi media komunikasi kreatif yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter. Sehingga, aksara Jawa dapat terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di era digital. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)