Pawiyatan Aksara Perkuat Pemahaman Paugeran Tata Tulis Aksara Jawa
- Jun 24, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Pemahaman terhadap paugeran atau aturan tata tulis aksara Jawa menjadi hal penting dalam upaya pelestarian budaya Jawa di tengah perkembangan zaman. Hal tersebut disampaikan Abdul Afif Rosyidi dalam Pawiyatan Aksara Tahun 2026 yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman di Ruang Sasana Wicara Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (24/6/2026).
Menurut Afif, aksara Jawa bukan sekadar simbol tulisan, melainkan sistem pengetahuan yang memiliki aturan baku dan filosofi tersendiri. Karena itu, masyarakat yang ingin mempelajari aksara Jawa perlu memahami paugeran tata tulis secara benar agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan maupun pemaknaannya.
“Paugeran tata tulis mencakup berbagai aspek, mulai dari penggunaan aksara legena, sandhangan, pasangan, hingga aturan penulisan tanda baca dan angka Jawa. Setiap unsur memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga membentuk sistem penulisan yang utuh dan teratur,” jelasnya di hadapan 30 peserta pawiyatan.
Afif menuturkan, pemahaman terhadap aturan tersebut sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika masyarakat mulai memanfaatkan aksara Jawa untuk berbagai kebutuhan, seperti penulisan nama, papan informasi, dokumen budaya, hingga konten digital. Tanpa pemahaman yang memadai, penggunaan aksara Jawa berpotensi menimbulkan kekeliruan yang dapat mengurangi nilai edukatifnya.
“Banyak orang hanya mengenal bentuk hurufnya tanpa memahami aturan penggunaannya. Padahal, ketepatan dalam menulis menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Afif juga menekankan pentingnya membiasakan diri membaca dan menulis aksara Jawa secara rutin. Menurutnya, kemampuan literasi aksara Jawa tidak cukup diperoleh melalui teori semata, tetapi harus diasah melalui praktik yang berkelanjutan agar pemahaman terhadap paugeran semakin kuat.
Ia menilai perkembangan teknologi digital justru dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas penggunaan aksara Jawa. Berbagai platform digital saat ini telah mendukung penggunaan aksara Jawa sehingga masyarakat memiliki lebih banyak ruang untuk mengaplikasikan kemampuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pemahaman paugeran yang baik, Afif berharap masyarakat tidak hanya mampu membaca dan menulis aksara Jawa, melainkan memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sehingga, aksara Jawa dapat terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Ita Kurniawati selaku pendamping Pawiyatan Aksara Tahun 2026 menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan aksara Jawa sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, filosofis, dan edukatif.
“Pelestarian aksara Jawa tidak cukup dilakukan melalui simbolisasi semata, tetapi perlu diwujudkan melalui peningkatan kemampuan masyarakat dalam membaca, menulis, dan memahami kaidah penggunaannya secara benar,” tuturnya.
Sebagai pendamping kegiatan, Ita berharap pawiyatan ini menjadi ruang belajar yang efektif bagi para peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai paugeran tata tulis aksara Jawa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah. Ia juga mengajak peserta untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari serta turut berperan sebagai agen pelestari budaya di lingkungan masing-masing. Sehingga, aksara Jawa tidak hanya terjaga keberadaannya, tetapi juga tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat serta mampu beradaptasi dengan perkembangan era digital. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)