Munggah Molo Perkuat Nilai Budaya Dalam Pembangunan Kantor Kalurahan Banyuraden

  • Feb 26, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Berita Pemerintahan

Sleman — Pelaksanaan tradisi “Munggah Molo” menandai tahapan penting dalam pembangunan gedung Kantor Kalurahan Banyuraden saat memasuki proses pemasangan atap. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis sore (26/2/2026) dengan dihadiri lurah, jajaran pamong kalurahan, serta para pelaksana pembangunan sebagai bentuk pelestarian nilai budaya sekaligus ungkapan rasa syukur.

Tradisi “Munggah Molo” merupakan kearifan lokal masyarakat Jawa yang dilakukan ketika rangka utama atap atau molo akan dinaikkan dan dipasang. Prosesi ini tidak sekadar seremoni, tetapi warisan budaya luhur yang sarat makna filosofis. Di dalamnya terkandung doa yang mencerminkan harapan akan keselamatan, kelancaran, serta keberkahan dalam pembangunan yang tengah berlangsung.

Lurah Banyuraden, Sudarisman dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang masih relevan di tengah pembangunan modern. “Melalui prosesi ini, kita memohon keselamatan bagi seluruh pekerja, kelancaran proses pembangunan, serta keberkahan bagi bangunan yang sedang didirikan bersama,” ungkapnya.

Sudarisman menambahkan, kegiatan “Munggah Molo” juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antara pemerintah kalurahan, pekerja, dan masyarakat sekitar. Interaksi yang terjalin dalam kegiatan ini menciptakan suasana gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan sosial di Banyuraden.

Dalam prosesi tersebut, dilakukan doa bersama yang dipandu oleh sesepuh desa, Sunaryadi sebagai inti dari rangkaian kegiatan “Munggah Molo”. Doa dipanjatkan agar seluruh proses pembangunan berjalan tanpa hambatan, para pekerja diberikan keselamatan, serta bangunan yang didirikan nantinya membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Selain doa, ritual juga dilengkapi dengan penyediaan sesaji tradisional yang menjadi simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tumpeng menjadi elemen paling utama yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ingkung ayam melambangkan kepasrahan dan ketulusan dalam memohon keselamatan, Apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf, sedangkan jenang melambangkan harapan akan kehidupan yang manis dan harmonis. 

Selanjutnya, buah Pisang raja hasil bumi juga menjadi bagian dari sesaji sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Tak ketinggalan, daun kelapa (janur) digunakan sebagai pelengkap yang memiliki makna kesucian dan kelestarian. Janur sering kali dianyam dan dipasang pada bagian molo sebagai penanda telah dilaksanakannya prosesi adat.

“Nilai simbolik ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas teknis, tetapi juga spiritual,” ungkap Sunaryadi.

Para pamong kalurahan yang hadir turut menunjukkan dukungan terhadap pelestarian tradisi tersebut. Mereka menilai bahwa keberlangsungan budaya lokal seperti “Munggah Molo” perlu terus dijaga sebagai bagian dari jati diri masyarakat Banyuraden di tengah arus modernisasi.

Dengan dilaksanakannya tradisi ini, diharapkan pembangunan gedung Kantor Kalurahan Banyuraden dapat berjalan lancar hingga tahap penyelesaian. Lebih dari itu, tradisi “Munggah Molo” menjadi pengingat bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tetap berpijak pada nilai budaya dan kearifan lokal. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)