Pelatihan Daur Ulang Sampah dan Pembuatan Kompos Tingkatkan Kesadaran Lingkungan Warga Banyuraden

  • Dec 09, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Pelatihan daur ulang sampah dan pembuatan kompos skala rumah tangga yang digelar di Bank Sampah Sukunan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (9/12/2025), menjadi momentum penting bagi warga untuk meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan lingkungan.

Kegiatan ini diinisiasi untuk menjawab tantangan meningkatnya volume sampah rumah tangga serta kebutuhan akan pola pengelolaan yang lebih mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Dalam pelatihan tersebut, 80 peserta yang berasal dari ibu-ibu PKK se-Kalurahan Banyuraden mendapatkan materi dari Endang Sri Lestari selaku instruktur mengenai jenis-jenis sampah, pemilahan yang benar, hingga teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos berkualitas.

Materi diberikan dengan pendekatan praktik lapangan, sehingga warga tidak hanya memahami konsep. Namun juga terampil dalam memproduksi kompos yang dapat digunakan untuk kebutuhan tanaman pekarangan maupun urban farming.

“Pelatihan ini ditujukan untuk memberdayakan keluarga dalam mengelola sampah secara mandiri untuk mengurangi volume sampah lingkungan dan menciptakan peluang ekonomi baru,” jelas Endang.

Kegiatan dihadiri oleh Lurah Banyuraden, Sudarisman didampingi Ulu-Ulu Banyuraden, Sulung Pramono, Dukuh Sukunan, Subiyatna serta Ketua Tim Penggerak PKK, Kwintartiningsih Pospoputri

Sudarisman menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari visi kalurahan untuk mendorong masyarakat berperan aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa dimulai dari rumah tangga sebagai produsen sampah terbesar.

“Karena itu, edukasi dan pendampingan terus diperkuat melalui berbagai program lingkungan tingkat padukuhan,” tegasnya.

Pada sesi diskusi Kwintartiningsih Pospoputri selaku Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden menyoroti pentingnya mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar membuang sampah menuju budaya mengelola sampah.

Ia pun menekankan bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan benar. Melalui pelatihan, warga diperkenalkan pada berbagai metode sederhana, seperti pembuatan eco-enzyme, kompos takakura, hingga pemanfaatan sampah anorganik menjadi kerajinan bernilai jual.

“Sampah bukan hanya persoalan kebersihan saja, tetapi menyangkut kesehatan, lingkungan, dan ekonomi keluarga. PKK ingin menjadi penggerak lingkungan bersih dan sehat yang di awali dari rumah tangga,” tandas Kwintartiningsih.

Sementara itu, banyak di antara anggota PKK menyatakan bahwa metode ini mudah diterapkan di rumah, bahkan dengan alat dan bahan sederhana yang tersedia sehari-hari. Pendekatan aplikatif ini diharapkan mampu mendorong munculnya agen-agen perubahan di setiap rumah tangga.

Selain manfaat ekologis, pelatihan ini juga menyinggung dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Kompos yang dihasilkan warga dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman toga, sayuran, hingga tanaman hias. Bahkan, beberapa peserta berminat mengembangkan produk kompos sebagai peluang usaha rumahan, sejalan dengan semangat pemberdayaan masyarakat di Banyuraden.

Dengan adanya pelatihan daur ulang sampah dan pembuatan kompos skala rumah tangga ini, Banyuraden menunjukkan keseriusannya sebagai kalurahan yang peduli lingkungan dan terus berupaya menciptakan ekosistem masyarakat yang sadar sampah. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)