Pentingnya Penyembuhan Fobia Terhadap Ular Melalui Hipnoterapi

  • Aug 10, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Kesehatan

Sleman – Ketakutan terhadap hewan ular merupakan salah satu fobia yang paling umum di dunia. Dalam banyak kasus, rasa takut ini terbentuk bukan karena pengalaman langsung, namun akibat cerita, mitos, atau gambaran menyeramkan yang diwariskan turun-temurun. Ular kerap dipersepsikan sebagai ancaman yang selalu mematikan, padahal sebagian besar spesies ular tidak berbahaya bagi manusia.

Fobia ini, jika tidak diatasi, dapat memengaruhi kualitas hidup, bahkan memicu reaksi panik berlebihan yang justru membahayakan diri sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Hipnoterapi, Setyo Hari di Sekretariat Komunitas Kekandhangan Banyuraden, Minggu (10/8/2025) saat memberikan terapi kepada pasiennya.

Di tengah meningkatnya perhatian pada keseimbangan ekosistem, pemahaman yang benar tentang satwa liar, termasuk ular, menjadi sangat penting. Ular memiliki peran besar dalam mengendalikan populasi hama seperti tikus dan serangga. Jika ketakutan yang tidak rasional terus dibiarkan, masyarakat cenderung memilih membunuh ular yang ditemui, alih-alih mengamankan atau memindahkannya secara aman. Akibatnya, keseimbangan alam terganggu dan dapat memicu ledakan populasi hama.

Menurut hari, penyembuhan fobia terhadap ular bukan berarti memaksa seseorang menyukai satwa tersebut, melainkan menumbuhkan sikap rasional dan terukur. Pendekatan psikologis seperti terapi pemaparan bertahap (exposure therapy) dapat membantu mengurangi reaksi panik. “Dengan cara ini, masyarakat bisa belajar mengenali perbedaan antara ular berbisa dan tidak berbisa, serta memahami perilaku alami ular yang umumnya menghindari manusia,” ujarnya.

Di sejumlah daerah, komunitas pecinta reptil dan relawan penyelamat satwa sudah mulai menggelar edukasi publik. Mereka mengajak warga melihat langsung ular dalam kondisi aman, sambil memberikan informasi ilmiah mengenai peran dan karakter satwa tersebut. Kegiatan ini terbukti efektif menurunkan tingkat ketakutan, terutama pada anak-anak yang masih membentuk persepsi tentang dunia sekitar.

Setyo Hari pun mengatakan, fobia yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menghambat respons cepat dalam situasi darurat. Misalnya, ketika bertemu ular di pekarangan, seseorang yang panik mungkin mengambil tindakan gegabah, seperti memukul dengan benda keras, yang justru memicu serangan ular. Dengan pemahaman yang tepat, warga bisa memilih langkah aman, seperti menjaga jarak, memantau pergerakan, dan memanggil pihak berwenang atau pawang terlatih.

Pentingnya penyembuhan fobia juga terkait dengan kesehatan mental. Rasa takut yang berlebihan terhadap ular dapat memicu kecemasan yang tidak perlu, bahkan dalam situasi yang sama sekali tidak berisiko. Masyarakat yang sudah mendapat edukasi dan terapi cenderung memiliki rasa percaya diri lebih tinggi saat berada di alam terbuka, sehingga interaksi dengan lingkungan menjadi lebih positif.

Proses penyembuhan fobia memang tidak instan. Diperlukan kolaborasi antara psikolog, ahli biologi, komunitas pecinta reptil, serta tokoh masyarakat untuk membangun budaya hidup berdampingan secara aman dengan satwa liar. Upaya ini bukan hanya untuk keselamatan manusia saja, namun juga demi menjaga keberlanjutan ekosistem yang sehat.

Menurut Setyo Hari, jika ketakutan masyarakat terhadap ular bisa dikelola dengan baik, maka hubungan manusia dengan alam akan menjadi lebih harmonis. Masyarakat yang paham dan tenang menghadapi ular tidak hanya akan lebih aman, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian satwa yang selama ini kerap disalahpahami. “Penyembuhan fobia ini adalah bagian dari membangun masyarakat yang berpengetahuan, berempati, dan selaras dengan lingkungannya,” tutupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)