Ponpes Ar-risalah Mlangi Menanam Cahaya Yang Tak Pernah Padam
- Jun 30, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman — Suasana Pondok Pesantren Putri Ar-Risalah Mlangi, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa sore (30/6/2026), terasa berbeda. Di tengah rangkaian Halaqah dan Haul ke-13 almagfurlah KH Abdullah Muhyiddin, puluhan santri, kiai, akademisi, alumni, dan masyarakat duduk bersisian dalam keheningan yang penuh makna. Mereka tidak sekadar menghadiri sebuah bedah buku berjudul Kiai yang Menanam Cahaya, tetapi sedang menapaki kembali jejak seorang ulama yang sepanjang hidupnya memilih menyalakan cahaya ilmu daripada mencari sorotan. Di ruang sederhana itu, kisah-kisah tentang ketulusan, kesabaran, dan pengabdian kembali menemukan rumahnya.
Haul bukan hanya menjadi momentum mengenang seseorang yang telah wafat. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk menghadirkan kembali nilai-nilai yang pernah dihidupkan sang ulama. Karena itulah, bedah buku memiliki posisi yang istimewa. Jika doa menghubungkan manusia dengan langit, maka buku menjadi jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan warisan pemikiran dan keteladanan para pendahulunya. Melalui lembar demi lembar buku tersebut, sosok KH Abdullah Muhyiddin hadir bukan sebagai tokoh yang dipuja, melainkan sebagai teladan yang layak ditiru.
Gus Mustafied mengajak peserta melihat buku tersebut bukan hanya sebagai kumpulan biografi. Menurutnya, setiap kisah yang tertulis merupakan cahaya yang terus menyala, menerangi siapa pun yang bersedia belajar dari perjalanan hidup seorang kiai.
“Keteladanan Pakdhe Kaji Dullah tidak lahir dari popularitas, melainkan dari konsistensi beliau mengabdi kepada umat melalui pendidikan, dakwah, dan pembinaan akhlak. Nilai-nilai itulah yang menjadikan sosoknya tetap hidup meski raganya telah lama tiada,” ucapnya.
Pandangan senada disampaikan KH Armen Siregar. Ia menuturkan bahwa tradisi pesantren sejak dahulu dibangun di atas kekuatan sanad, baik sanad ilmu maupun sanad keteladanan. Bedah buku menjadi salah satu cara merawat mata rantai tersebut agar tidak terputus oleh perkembangan zaman.
“Ketika kisah perjuangan seorang ulama ditulis secara sistematis, diwariskan melalui diskusi, lalu dibaca oleh generasi berikutnya, maka sesungguhnya pesantren sedang membangun peradaban yang berpijak pada ingatan kolektif umat,” tandasnya.
Sebagai penulis epilog buku Kiai yang Menanam Cahaya, KH Prof. Tamyiz Mukharrom, berpendapat bahwa budaya literasi merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam. Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali dangkal dan serba instan, buku tetap memiliki kekuatan yang tidak tergantikan.
“Membaca mengajarkan ketekunan, berpikir kritis, sekaligus menghadirkan kebijaksanaan. Karena itu, menghadirkan karya yang merekam perjalanan hidup para ulama bukan hanya menjadi bentuk penghormatan, melainkan investasi intelektual bagi masa depan umat,” tuturnya.
Sementara itu, Ahmad Rofik, salah satu penulis buku Kiai yang Menanam Cahaya, mengisahkan bahwa proses penyusunan buku tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Ia menelusuri berbagai dokumen, mewawancarai keluarga, murid, sahabat, dan tokoh-tokoh yang pernah membersamai KH Abdullah Muhyiddin. Dari serpihan kenangan yang tersebar itu tersusun sebuah mozaik utuh tentang sosok ulama yang sederhana, rendah hati, tetapi memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter masyarakat dan mengembangkan pendidikan Islam di Mlangi maupun wilayah sekitarnya.
Selama diskusi berlangsung, para peserta tidak hanya mendengarkan paparan para narasumber. Mereka juga larut dalam kisah-kisah kecil yang menghadirkan sisi kemanusiaan seorang kiai. Tentang kesederhanaannya dalam menjalani kehidupan, ketelatenannya membimbing santri tanpa membedakan latar belakang, serta keikhlasannya melayani masyarakat tanpa pernah menghitung balasan. Kisah-kisah sederhana itulah yang justru menyentuh hati dan memperlihatkan bahwa kebesaran seorang ulama sering kali lahir dari hal-hal yang tampak biasa.
Sementara itu, KH Syukron Amin selaku Dzurriyah KH Abdullah Muhyiddin menambahkan, di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, forum bedah buku seperti ini memiliki makna yang semakin penting. Ia bukan sekadar agenda akademik, melainkan ikhtiar menjaga memori kolektif agar generasi muda tidak kehilangan arah.
“Ketika tokoh-tokoh teladan terdokumentasikan dengan baik, masyarakat memiliki sumber inspirasi yang otentik untuk membangun karakter, memperkuat budaya membaca, serta menumbuhkan semangat pengabdian yang berakar pada ilmu dan akhlak,” imbuhnya.
Sore itu, ketika forum berakhir, para peserta meninggalkan ruangan dengan membawa lebih dari sekadar sebuah buku. Mereka membawa pulang pelajaran bahwa cahaya seorang kiai tidak pernah benar-benar padam. Cahaya itu terus hidup melalui ilmu yang diajarkan, akhlak yang diwariskan, dan keteladanan yang dituliskan untuk dibaca dari generasi ke generasi.
Melalui bedah buku Kiai yang Menanam Cahaya, Halaqah dan Haul ke-13 almagfurlah KH Abdullah Muhyiddin menjadi pengingat bahwa warisan terbesar seorang ulama bukanlah bangunan yang megah ataupun jabatan yang tinggi, melainkan manusia-manusia yang tercerahkan oleh ilmu, keikhlasan, dan kasih sayang yang pernah ia tanamkan sepanjang hidupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)