BBPPMT Yogyakarta Latih Calon Transmigran Angkatan VI dan VIII Kelola Air Hujan

  • Nov 21, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Puluhan peserta calon transmigran angkatan VI dan VIII tahun 2025 berkumpul di Kantor Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) di Jalan Parasamya 16 Sleman, Jumat (21/11/2025). Mereka mengikuti pelatihan pemanfaatan dan pengelolaan air hujan, sebuah agenda yang dirancang untuk membekali para transmigran dengan kemampuan bertahan di lingkungan baru.

Kepala BBPPMT Yogyakarta, Tunggak Santosa, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan jawaban atas tantangan nyata di daerah transmigrasi, terutama terkait akses air bersih yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun. Menurut Santosa, air hujan yang kerap terabaikan memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga peternakan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memperkenalkan teknologi sederhana namun efektif yang dapat diterapkan oleh calon transmigran di lokasi tujuan.

“Pelatihan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari program pemberdayaan yang disiapkan pemerintah bagi masyarakat yang akan memulai kehidupan di wilayah transmigrasi,” tandasnya.

Pelatihan bagi calon transmigran angkatan VI dan VIII ini terselenggara atas kerja sama BBPPMT Yogyakarta dengan BBPPMT Banjarmasin. Kerja sama ini mendukung program prioritas 5T Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang berfokus pada pengembangan kawasan transmigrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan pembangunan.

“Melalui program unggulan 5T (Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong), Kementerian Transmigrasi bermaksud meningkatkan kesejahteraan dan mengembangkan kawasan transmigrasi secara terpadu dan berkelanjutan,” jelas Santosa.

Lebih lanjut, sebanyak 70 calon transmigran yang berasal dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, mendapatkan pelatihan pemanfaatan dan pengelolaan air hujan dari pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih. Pelatihan ini menggunakan konsep 5M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri).

Santosa ingin memastikan setiap peserta tidak hanya siap secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang langsung dapat diterapkan. Pemahaman mengenai pengelolaan air hujan diyakini mampu meningkatkan ketahanan keluarga transmigran pada tahap awal penempatan.

Dalam paparan materinya, Wahyuningsih menjelaskan bahwa pengelolaan air hujan bukan hanya soal menampung, tetapi juga memastikan kualitasnya tetap layak digunakan. Calon transmigran menerima penjelasan mendalam mengenai desain bak penampung, pemasangan talang, penggunaan filter sederhana, hingga teknik pemeliharaan. Semua materi dikemas dengan pendekatan praktik langsung yang memudahkan peserta memahami langkah-langkah penerapannya.

“Banyak dari mereka yang mengaku belum pernah mengenal teknik pemanenan air hujan sebelumnya, sehingga pelatihan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana mereka dapat menciptakan sumber air alternatif yang hemat biaya dan ramah lingkungan,” ucap Wahyuningsih.

Selain sebagai bekal teknis, pelatihan ini diharapkan dapat menguatkan daya adaptasi calon transmigran ketika menghadapi musim kemarau di daerah tujuan. Wahyuningsih menekankan bahwa pemanenan air hujan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber air tanah atau pasokan dari pihak luar. Kemandirian dalam pengelolaan air akan berdampak langsung pada keberlanjutan usaha pertanian dan kebutuhan domestik keluarga transmigran.

Sebagai bentuk apresiasi, Direktur Perencanaan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, Bambang Widyatmoko, menyerahkan plakat penghargaan kepada Wahyuningsih untuk memperkuat jejaring kemitraan antara pemerintah dengan komunitas lokal yang memiliki kompetensi khusus di bidang lingkungan dan kemandirian sumber daya air. (Adnan Nurtjahjo/KIM Gamping)