Diskominfo DIY Luncurkan ILM Menjaga Jogja Sebagai Ruang Edukasi Publik

  • Sep 12, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • KIM

Peluncuran film pendek Menjaga Jogja yang digarap sebagai Iklan Layanan Masyarakat (ILM) oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi sebuah penanda penting bahwa pesan moral bisa hadir dengan cara kreatif dan dekat dengan masyarakat. Acara yang berlangsung di Ruang Audiovisual Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, Jumat sore (12/9/2025) menghadirkan suasana hangat yang memadukan seni visual, edukasi, sekaligus refleksi sosial.

Film ini tidak hanya sekadar tontonan, namun juga sebuah tuntunan yang dirancang untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya, keamanan, serta keberagaman Jogja. Dengan visual yang sederhana namun menyentuh, pesan yang dibawa mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga kalangan dewasa.

Berbagai elemen masyarakat seperti Masyarakat Digital Jogja, Paguyuban Akun Info Jogja, Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) tingkat kabupaten/kota se-DIY, Pimpinan Redaksi Harian Jogja, Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Pemimpin Redaksi Radar Jogja, Pimpinan Lembaga Penyiaran Publik TVRI Stasiun Yogyakarta, Pimpinan ADI TV, Pimpinan Jogja TV, Pimpinan RB TV, serta Pimpinan Jogja Istimewa Televisi hadir menyaksikan pemutaran film hingga selesai.

Kepala Dinas Kominfo DIY, HET Wahyu Nugroho dalam sambutannya menegaskan bahwa ILM Menjaga Jogja merupakan upaya strategis pemerintah daerah untuk membangun kesadaran publik melalui media kreatif.

“Film pendek memiliki kekuatan untuk mengikat emosi penonton sehingga pesan dapat tersampaikan lebih efektif dibandingkan sekadar informasi verbal atau tulisan,” ucapnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, film ini membawa pesan penting tentang bagaimana setiap individu perlu bijak dalam bermedia sosial. Konten yang dibagikan, komentar yang ditulis, hingga sikap di ruang digital mencerminkan tanggung jawab sebagai warga masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan kearifan lokal.

Selain itu, film Menjaga Jogja juga menyoroti kewaspadaan terhadap penipuan online yang marak terjadi. Dengan berbagai modus, pelaku kejahatan digital sering memanfaatkan kelengahan masyarakat. Pesan yang disampaikan film ini mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati, tidak mudah percaya pada tawaran menggiurkan, serta selalu memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan.

Acara yang dihadiri oleh Aswino Wardhana selaku Koordinator Bidang Hubungan Kelembagaan dan Tata Kelola Komisi Informasi Daerah DIY juga melakukan pemutaran dan diskusi film berjudul Kronik Puriwicara.  Usai pemutaran film yang disutradarai Riza Pahlevi, penonton diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman kreatifnya dalam meramu cerita agar tetap relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Ia pun menekankan pentingnya menghadirkan film sebagai ruang dialog, bukan hanya hiburan semata.

Menurut Riza, film pendek ILM memiliki posisi unik karena mampu mengawinkan misi edukasi dengan estetika seni. Tantangan utamanya adalah bagaimana menyajikan pesan yang serius tanpa kehilangan daya tarik visual.

“Film pendek harus bisa membuat orang berhenti sejenak, berpikir, lalu membawa pulang pesan yang melekat,” ungkapnya.

Para peserta diskusi, yang terdiri dari jurnalis, mahasiswa, komunitas film, hingga pegiat literasi, terlihat antusias memberikan pertanyaan maupun tanggapan. Mereka menilai film Kronik Puriwicara berhasil memotret dinamika kehidupan sekaligus mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga harmoni sosial dan kesetaraan gender.

Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sineas, dan masyarakat dapat melahirkan gerakan bersama. Dengan media film, nilai-nilai lokal dapat dirawat sekaligus dikomunikasikan dengan cara yang kekinian. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)