GKR Bendara Dorong Pemanfaatan Air Hujan Untuk Kesehatan di Sleman
- Sep 10, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman – Pemanfaatan air hujan sebagai air minum alternatif kembali mendapatkan dukungan moral dari salah satu tokoh penting Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut memberikan apresiasi khusus terhadap Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman yang konsisten mengembangkan budaya memanfaatkan air hujan sebagai sumber kehidupan sekaligus sarana meningkatkan kesehatan masyarakat.
Dalam kunjungannya di sekolah non formal yang berlokasi di Tempursari, Sleman, Rabu (10/9/2025) GKR Bendara menegaskan bahwa pemanfaatan air hujan bukan sekadar upaya menjaga ketersediaan air, namun sebagai bentuk kearifan lokal yang relevan di tengah tantangan perubahan iklim. Menurutnya, air hujan yang ditampung dan diolah secara baik dapat menjadi alternatif air minum yang tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga menyehatkan tubuh.
“Air hujan adalah anugerah dari Sang Pencipta. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya,” ungkapnya.
SAH Banyu Bening Sleman sendiri sudah lebih dari satu dekade mempelopori gerakan pemanenan air hujan. Lembaga ini tidak hanya menampung air hujan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai cara pengolahan sederhana agar air benar-benar aman diminum. Dukungan GKR Bendara memberi semangat baru bagi komunitas yang dipimpin oleh Sri Wahyuningsih sebagai aktivis lingkungan tersebut.
Selain mendukung gerakan ini, putri kelima Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut pun menilai bahwa kebiasaan meminum air hujan yang sehat bisa menjadi gaya hidup baru masyarakat perkotaan yang selama ini sangat bergantung pada air tanah dan air kemasan.
“Ketergantungan pada air tanah justru mempercepat penurunan muka tanah dan dapat memicu bencana ekologis di masa depan,” sambungnya.
Bagi warga Sleman, kehadiran tokoh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberi legitimasi moral terhadap gerakan lokal yang berakar dari kebutuhan masyarakat sendiri. Apalagi, SAH Banyu Bening selama ini dikenal aktif menyelenggarakan edukasi publik, mulai dari seminar, lokakarya, hingga praktik langsung memanen air hujan. Dukungan GKR Bendara diharapkan memperluas jangkauan kampanye mereka hingga level nasional.
Menariknya, pengalaman para warga yang telah rutin mengonsumsi air hujan menunjukkan manfaat nyata. Banyak yang merasakan tubuhnya lebih segar, pencernaan lebih baik, hingga berkurangnya keluhan kesehatan ringan setelah meninggalkan kebiasaan minum air kemasan. Fakta-fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa air hujan bukan hanya layak minum, tetapi menyehatkan tubuh.
Lebih lanjut, GKR Bendara mendorong agar sekolah air hujan terus melakukan inovasi dalam metode filtrasi dan pengolahan. Ia menambahkan, tantangan terbesar di masa depan adalah menjaga kualitas air hujan di tengah polusi udara dan perubahan cuaca ekstrem. Karenanya, diperlukan jalinan kerjasama dengan pihak akademisi, pemerintah, hingga sektor swasta.
Dukungan GKR Bendara membuat gerakan ini tidak hanya terlihat sebagai eksperimen komunitas, melainkan sebagai gerakan peradaban menuju masa depan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)