Haflah At-Tasyakkur Wal Ikhtitam ke-94 Al-Miftah Mlangi, Tekankan Pentingnya Tafaqquh dan Akhlaq
- Feb 10, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman — Pentingnya kesungguhan dalam belajar (tafaqquh) dan pembentukan akhlaq bagi anak menjadi pesan utama dalam mauidhoh hasanah Haflah At-Tasyakkur wal Ikhtitam ke-94 Pondok Pesantren (PP) Al Miftah Mlangi, Gamping, Sleman, Selasa (10/2/2026). Pesan tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, K.H. Muhammad Yusuf Chudlori di hadapan para santri, wali santri, alumni serta tamu undangan yang memadati kompleks pesantren.
Dalam tausiyahnya, pria yang lebih dikenal sebagai Gus Yusuf ini menegaskan bahwa kewajiban utama orang tua bukan semata-mata mencukupi kebutuhan materi anak, melainkan memastikan pendidikan yang mengantarkan anaknya menuju kesuksesan dunia dan akhirat.
“Pendidikan dalam perspektif Islam mencakup dua dimensi utama, yakni penguasaan ilmu (tafaqquh fiddin) dan pembentukan akhlaq al-karimah,” jelasnya.
Menurutnya, tafaqquh bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses pendalaman ilmu agama yang melahirkan pemahaman komprehensif dan sikap hidup yang lurus. “Belajar harus diniatkan untuk mencari ridha Allah, agar ilmu menjadi cahaya dan penuntun, bukan sekadar pengetahuan,” tandas Gus Yusuf.
Ia juga mengingatkan bahwa tanpa fondasi akhlaq, ilmu berpotensi kehilangan arah. Akhlaq, lanjutnya, menjadi indikator keberhasilan pendidikan karena mencerminkan internalisasi nilai-nilai keislaman dalam perilaku sehari-hari. Anak yang cerdas namun tidak berakhlaq, menurutnya, belum memenuhi tujuan utama pendidikan.
Gus Yusuf menekankan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab moral dan spiritual dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada lembaga formal, tetapi memerlukan keteladanan dan pengawasan yang konsisten di lingkungan keluarga.
Dalam kesempatan ini, ia mengapresiasi peran Pondok Pesantren Al Miftah Mlangi yang selama 94 tahun konsisten membina santri melalui sistem pendidikan berbasis keilmuan dan pembiasaan akhlaq. “Tradisi haflah bukan sekadar seremoni melainkan momentum evaluasi atas capaian pendidikan dan pembinaan karakter,” terangnya.
Di tengah tantangan era digital dan derasnya arus informasi, Gus Yusuf mengingatkan pentingnya memperkuat benteng moral anak. Ia menilai, kesungguhan dalam menuntut ilmu harus diiringi dengan kedisiplinan, adab kepada guru, serta komitmen menjaga nilai-nilai keagamaan.
Haflah at-Tasyakkur wal Ikhtitam ke-94 ini menjadi penanda wujud rasa syukur atas keberlangsungan pesantren dalam mendidik generasi. Suasana khidmat menyelimuti rangkaian acara yang diisi dengan pembacaan doa, penampilan santri, serta mauidhoh hasanah.
Melalui pesan yang disampaikan, Gus Yusuf berharap para santri dan wali santri semakin menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga keselamatan di akhirat. Tafaqquh dan akhlaq merupakan dua pilar utama yang harus terus ditanamkan demi melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berintegritas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)