ISLAH, Gerakan Nyata Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Air Hujan
- Nov 26, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman - Di tengah meningkatnya ancaman krisis air dan bencana hidrometeorologi, gagasan pemanfaatan air hujan kembali mendapatkan sorotan. Hal itu mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi di Mojokerto sehari yang lalu ketika Sri Wahyuningsih, selaku Founder Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman dijadikan narasumber terkait urgensi Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) sebagai langkah konkret dalam pengurangan risiko bencana.
Di kediamannya, Tempursari, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (26/11/2025) Wahyuningsih menuturkan bahwa ia bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong agar masyarakat tak hanya siap siaga saat bencana terjadi, namun juga melakukan mitigasi sejak jauh hari melalui pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Menurut Wahyuningsih, perubahan iklim telah mengubah pola musim secara drastis, menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang datang dengan intensitas ekstrem. Kondisi ini memperbesar risiko kekeringan, banjir bandang, dan tanah longsor di banyak wilayah Indonesia.
Instalasi ini hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar, yakni dengan menampung, menyimpan, dan mengolah air hujan secara sistematis agar dapat digunakan kembali ketika musim kering tiba. “Air hujan yang selama ini dianggap remeh, justru bisa menjadi penyelamat pada masa krisis,” ujarnya.
ISLAH diperkenalkan Wahyuningsih sebagai model sistem pemanenan air hujan yang terstruktur. Instalasi ini tidak hanya sekadar bak penampung air, melainkan sebuah rangkaian sistem yang mencakup filter, pipa distribusi, hingga tangki penampungan akhir.
Dengan sistem yang tepat, air hujan yang bersih dapat digunakan untuk kebutuhan domestik, pertanian, serta pengisian ulang air tanah. Sehingga, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber air permukaan yang semakin terbatas.
Ia pun menekankan aspek kemandirian komunitas. ISLAH dapat dirancang, dibangun, dan dipelihara oleh masyarakat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal. Pendekatan ini sejalan dengan konsep community-based disaster risk reduction, di mana warga menjadi aktor utama dalam memitigasi risiko di lingkungannya.
“Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan alat untuk mengelola air, ketangguhan mereka meningkat secara signifikan,” tandas Wahyuningsih.
Penerapan ISLAH tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi. Dengan ketersediaan air sepanjang tahun, masyarakat dapat mempertahankan produktivitas pertanian, mengurangi biaya pembelian air bersih, dan meningkatkan kualitas kesehatan melalui akses air yang lebih baik.
Selain itu, ISLAH membuka ruang inovasi lokal sehingga lahir kelompok atau komunitas penggerak yang peduli terhadap isu lingkungan dan kebencanaan. (Adnan Nurtjahjo|KIMPararta Guna Gamping)