Jaga Nilai Warisan Budaya Tak Benda Bagi Para Penerus
- Apr 04, 2018
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Gamping – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan pencatatan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Mbah Demang Cokrodiromo yang berlokasi di Dusun Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman pada Rabu (4/4) pukul 09.00 WIB.
Penyusunan data master referensi nilai budaya tak benda ini dipimpin oleh Kasubbid WBTB Ecep Indris dibantu stafnya Iis Iswanto. Turut mendampingi Kasi Sejarah dan Nilai Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Anas Mubakir.
Adapun tujuan pencatatan WBTB ini adalah agar pemerintah mempunyai data karya budaya Indonesia yang diperbarui secara berkala, memudahkan penyusunan rencana dan pengambilan kebijakan perlindungan WBTB, memudahkan penyusunan laporan perkembangan karya budaya Indonesia secara berkala, menjadi sumber penelitian, serta sebagai bahan perkuliahan.
“Dan yang paling utama adalah agar nilai budayanya hidup diteruskan oleh keturunannya, pun dapat diwariskan serta tidak diakui oleh negara lain,” ungkap Ecep Idris, Kasubbid WBTB.
Tim pencatatan disambut oleh Pemangku Adat setempat Murdiyanto, Ketua Trah Titus Sunarto, anggota trah Aris, Jani, dan Susilo. Murdiyanto menjelaskan bahwa di Dusun Modinan terdapat sebuah upacara adat yang dikenal dengan “Suran Mbah Demang”. Upacara ini diadakan oleh masyarakat Modinan untuk mengenang perjuangan hidup Ki Demang Cokrodikromo, seorang demang pabrik gula Demak Ijo yang besar laku prihatinnya, memiliki kharisma tinggi, disegani dan dihormati oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Bentuk lakunya antara lain tidak makan garam, setiap sore tapa bisu mengelilingi rumahnya, dan mandi hanya setiap satu tahun sekali pada setiap tanggal 7 Sura tepatnya malam menjelang tanggal 8 Sura di sumur belakang rumahnya. Sisa air mandi Ki Demang tersebut diambil oleh anak cucu dan sanak saudara untuk ngalap berkah sampai sekarang.
Tradisi ini masih tetap dilestarikan dan banyak masyarakat yang ikut ngalap berkah dengan mengambil air dari sumber air yang sama dengan yang dahulu dipakai mandi oleh Ki Demang Cokrodikromo ini. (Adnan Nurtjahjo)